Ibu...
adalah wanita yang telah melahirkanku
merawatku
membesarkanku
mendidikku
hingga diriku telah dewasa
Ibu...
adalah wanita yang selalu siaga tatkala aku dalam buaian
tatkala kaki-kakiku belum kuat untuk berdiri
tatkala perutku terasa lapar dan haus
tatkala kuterbangun di waktu pagi, siang dan malam
Ibu...
adalah wanita yang penuh perhatian
bila aku sakit
bila aku terjatuh
bila aku menangis
bila aku kesepian
Ibu...
telah kupandang wajahmu diwaktu tidur
terdapat sinar yang penuh dengan keridhoan
terdapat sinar yang penuh dengan kesabaran
terdapat sinar yang penuh dengan kasih dan sayang
terdapat sinar kelelahan karena aku
Aku yang selalu merepotkanmu
aku yang selalu menyita perhatianmu
aku yang telah menghabiskan air susumu
aku yang selalu menyusahkanmu hingga muncul tangismu
Ibu...
engkau menangis karena aku
engkau sedih karena aku
engkau menderita karena aku
engkau kurus karena aku
engkau korbankan segalanya untuk aku
Ibu...
jasamu tiada terbalas
jasamu tiada terbeli
jasamu tiada akhir
jasamu tiada tara
jasamu terlukis indah di dalam surga
Ibu...
hanya do'a yang bisa kupersembahkan untukmu
karena jasamu
tiada terbalas
Hanya tangisku sebagai saksi
atas rasa cintaku padamu
Ibu..., I LOVE YOU SO MUCH
juga kepada Ayah...!!!
Selasa, 22 Maret 2011
Selasa, 14 Desember 2010
Cinta Di Antara Gerimis
Entah mengapa pada gerimis pilihan Cinta tertambat. Kedua pilihan menyerta kegelisahan hidup. Gelisah mumpuni. Menelesup relung jiwa. Tak bisa dipungkiri bahwa Sang Maha Pemberi Rasa Kasih Sayang memberikan sebuah kemustahilan. Mustahil untuk mendapatkan Rama sebagai seorang suami. Rama, sosok itu. Lelaki yang telah menitipkan kata ‘menunggu’ untuk sekian lama. Bukan satu atau dua hari. Apalagi satu atau dua tahun. Melainkan sewindu. Waktu yang tak sedikit untuk sebuah penantian. Kala itu umur Cinta baru tujuh belas tahun saat Rama memutuskan pilihan untuk kuliah di Al-Azhar University. Rama sendiri genap berusia delapan belas tahun. Rasa itu seolah tak bisa dilepas. Dua anak manusia yang dihadirkan dalam sebuah lingkungan berdekatan. Mereka bertetangga, meski terhalang tiga rumah. Rupanya rasa itu tak mampu dihalangi oleh tiga rumah tersebut. Entah mengapa, rasa itu terus berkecamuk. Mesti tak pernah terkatakan oleh lisan. Tapi bahasa qalbu mampu terterjemahkan oleh segalanya. Pandangan mata dan gerak tubuh. Dalam sepotong diam, mereka sama-sama menyimpan rasa itu.Cinta pun takluk pada rasa itu. Dengan rasa itu pula, Cinta terus menanti kehadiran Rama. Meski jejarak tak dapat dipangkas. Antara Kairo dan Indonesia. Bila saja tak ada kepercayaan akan ucapan Rama, maka tak akan mungkin Cinta menepati janjinya untuk menjadi seseorang yang melebur pada kata setia. Kesetiaan dan kepercayaan itu mampu mengurai jejaring kerinduan dalam ketenangan. Tak pernah sepucuk surat singgah di genggaman Cinta. Pun suara Rama yang terdengar di telepon. Hanya saja setiap dua tahun sekali, Rama selalu datang ke Indonesia. Itupun terkadang bisa lebih satu atau dua bulan. Tentu saja, Cinta dapat menghapus dahaga kehampaan. Meski berbilang waktu.
Kau tahu kalau kurma ini belum masak?” tanya Rama suatu hari di dua tahun pertama keberangkatannya saat ia pulang ke tanah air. Cinta hanya berdiri di depan pintu sambil menggelengkan kepala. Rama menyerahkan kurma itu seraya tersenyum. Tangannya memegang kepala yang terkena guyuran hujan dan sesekali menyibak rambutnya yang terbasahi air langit itu.“Sengaja aku bawakan kurma untuk keluarga kita. Biar tahu rasanya kurma yang setengah matang. Kalau di Mesir makan kurma paling enak saat udara panas. Tapi di sini tak ada salahnya kau cicip di musim hujan.”“Keluarga kita? Semoga saja memang aku mendapatkanmu sebagai pasangan hidup.” batin Cinta berkata-kata. “Aku akan ke rumahmu Februari dua tahun lagi,” Rama meminta Cinta untuk tetap menunggu hingga Februari dua tahun lagi.
Dua tahun selanjutnya Rama kembali. Kali ini sebulan lebih cepat. Cinta tampak kegirangan. Maklum saat itu Cinta tengah disibukkan oleh kegiatan perkuliahan cukup padat. Menurutnya kehadiran Rama dapat mendongkrak semangatnya yang hampir padam untuk menjalani kuliah. Tak ada yang teristimewa dari kepulangannya. Hanya sebuah cerita yang dialami Rama saat menerima sebuah bingkisan dari seorang kakek yang berpakaian lusuh. Awalnya Rama meremehkan kehadiran kakek tua itu sebagai pengemis. Pandangan semacam itu memang dipicu oleh penampilan sang kakek. Tak disangka, sang kakek memberinya sebuah bingkisan yang berisikan lembaran-lembaran uang. Selepas kakek itu pergi dari apartemennya, Rama menyadari bahwa keadaannya saat itu sangatlah menderita. Paceklik. Tak ada pemasukan sama sekali. Uang hasil menerjemahkan buku-buku berbahasa Arab ke dalam bahasa Inggris mengalami keterlambatan. Uang itulah sebagai pengganti sementara untuk memenuhi kebutuhannya selama beberapa waktu.Cinta hanya mendengarkan rangkaian cerita itu di balik gerimis yang menjarum di halaman rumahnya. Di akhir perbincangan itu Cinta memuji Rama. Ada raut kebahagiaan melingkupi wajah Rama. “Mas orang baik. Tentu saja banyak yang menolong. Mas memang beruntung.”Entah sebagai balasan atas pujian atau memang sebagai permintaan kembali untuk menanti kehadirannya, Rama menjanjikan akan ke Indonesia bulan Juni dua tahun lagi. Lagi-lagi untuk kali kesekian Cinta diuji kesetiaannya.
Seharusnya tak ada gerimis bulan Juni sebab sekian waktu tak ada hujan membasahi Bumi Pertiwi. Bulan yang telah dijanjikan Rama untuk menemui Cinta di Indonesia. Rama menunaikan janjinya tepat waktu. Bulan Juni. Hanya saja, ada yang tak tepat dari kehadirannya. Sama sekali Rama tak menunjukkan batang hidungnya. Meski, Cinta tahu obrolan-obrolan tetangga sebelah memuat kabar kedatangan Rama. Cinta hanya diam. Tak mungkin baginya untuk menyambangi rumah Rama. Sekadar untuk memastikan bahwa Rama tengah sowan ke Indonesia. Gerimis tak berhenti. Memagut cerahnya hari. Persis seperti apa yang dialami Cinta. Gerimis itu serupa tanya yang enggan hilang dari benaknya. Hingga mengubah perwajahan Cinta yang cerah menjadi sendu.Beberapa hari Cinta tak mendapati sosok yang begitu dekat di hatinya. Tapi, begitu semu. Tak nampak batang hidungnya. Hanya berkeliaran di rimba ingatan. Gerimis kian menjadi-jadi. Hingga muncul hujan. Merinai. Titik-titik air singgah di jendela. Berkali-kali Cinta memainkan titik air dengan ujung jarinya. Hawa begitu dingin menyelubungi alam mayapada. Sedingin jiwanya yang kini koyak oleh kerinduan yang berlarat-larat.Satu minggu telah terlewati tanpa satupun tanda-tanda yang bisa menenangkan jiwa renta Cinta. Pertemuan alangkah sejenis benda langka yang mesti digantungkan ke langit tinggi. Sebuah kemewahan rasa mumpuni, namun tak mampu terbeli. Bahkan kini rindu hanya terserak di gudang hati.Di hari ketujuh yang berarti hari terakhir Rama di Indonesia, Rama menitipkan bingkisan berupa dua lembar kertas. Satu kertas jumbo berisi 30 juz Al-Quran dengan huruf yang sangat kecil. Tentu saja, membacanya harus dengan menggunakan suryakanta atau kaca pembesar. Lainnya berupa lembaran kertas papirus yang terlapisi kertas dan memuat kaligrafi surat Al-Falaq yang didominasi warna merah, biru, serta putih. Di balik kaligrafi itu bermukim secarik kertas memuat sebait puisi yang ditulis tangan.Telah purna dhoifnya diri. Ditikam gerimis bertubi-tubi. Hendak merengkuh cinta hakiki. Tak jua terpatri di sanubari Cinta terpasung dalam geming dan makna puisi. Cinta bukanlah pujangga atau sastrawati yang mampu menterjemahkan maknanya. Hanya ada barisan rasa sepi yang bersebatin dengan dirinya kini. “Mbak, Mas Rama minta maaf nggak bisa ketemu. Sibuk ngurus visa. Apalagi ya…,” Asti -adik perempuan Mas Rama- mencoba mengingat-ingat pesan kakak kesayangannya itu. “Nggak apa-apa, kok,” jawab Cinta singkat. Cinta memperhatikan Asti yang tengah kepayahan mengingat pesan yang lupa itu. Beberapa waktu kemudian Asti tersenyum simpul. “Oh iya, Mas Rama baru bisa pulang dua tahun lagi. Sekarang Mas Rama kerja jadi marketing di perusahaan jus buat balita.” Gerimis masih terus berlanjut, meski Asti sudah meninggalkan jejaknya di ruang tamu rumah Cinta. Ada yang mengusik jiwa Cinta. Lagi-lagi hal itu membuat Cinta terseret pada pusaran kegelisahan. “Dua tahun? Aku sudah biasa menunggu selama itu. Tapi bulan apa? Kenapa tak kutanyakan?” Ada penyesalan tak berujung dirasakan oleh Cinta. Setidaknya angka dua adalah bagian yang tak bisa dihindari. Dua tahun untuk setia.
Tak pernah terpikir bahwa kehidupan tak selamanya menyimpan hal yang sama. Dua tahun tak selamanya akan berwujud dua tahun. Kiranya inilah kejadian yang sama sekali tak terduga oleh Cinta. Sebelas bulan dari Juni setahun sebelumnya. Seusai bingkisan itu tergenggam oleh Cinta, ada peristiwa sangat mengejutkan menghampiri Cinta. “Cinta, lusa Rama mau telepon kamu. Jam 8 malaman. Ibu sudah bilang supaya Rama menghubungi rumah kamu. Tapi, katanya ada berita penting untuk keluarga ini. Kamu diminta mendengarkannya. Kamu nggak keberatan kan?” “Tidak, tante,” perasaan Cinta mendadak tak menentu. Selain karena langkanya atau bahkan tak pernah Mas Rama menghubungi Cinta lewat telepon. Aneh! “Mengapa aku harus dilibatkan?” Cinta tak tahu misteri apa yang tengah ditimpakan Allah kepadanya.Tepat pukul delapan dua hari berikutnya, Cinta berbicara dua arah dengan Rama. Mendadak angin begitu kencang berhembus. Tentu saja mempengaruhi penerimaan suara dengan terputus-putus.“Cinta, bisa lebih keras ngomongnya? Aku nggak dengar. Di sana lagi gerimis atau udah hujan?” Hati Cinta jengkel mendengar pertanyaan dari Rama. Sudah dicoba berkali-kali mengeraskan suaranya. Tetap saja suara Cinta tak bisa didengar jelas oleh Rama. Belum lagi pertanyaan soal gerimis atau hujan. Cinta menganggap bukan saatnya menanyakan hal seperti itu. Apalagi sambungan internasional sangat menyedot pulsa.“Cinta, kalo Mas Rama kenalin Cinta sama seseorang mau nggak?”“Seseorang? Untuk apa Mas?”“Untuk hidup dan kemaslahatan.”“Memang siapa Mas? Kemaslahatan?”“Untuk Mas Rama dan kamu.”“Tunggu tanggal mainnya. Setahun lagi, ya.”Kalau setahun lagi mau berkenalan dengan seseorang, kenapa repot-repot menghubungiku, pikir Cinta.Setahun kemudian, sejarah kelam terpahat di kehidupan Cinta. Rama tiba di Indonesia dengan penampilan baru. Membiarkan jenggot dan cambang tumbuh. Tampak begitu gagah. Cinta tak bisa langsung mengenali sosok Rama. Hanya suara bariton Rama memberi sebuah tanda, kalau itu benar-benar suara Rama. Buncahan rindu yang bergejolak di hati Cinta sirna seketika. Sosok di hadapannya memberikan kebahagian tersendiri. Cinta yang kini tengah merintis karir di dunia periklanan seakan digodam kesadarannya akan pemenuhan setengah agamanya yang mesti diwujudkan.“Kamu masih ingat obrolan di telepon setahun lalu?”Obrolan di telepon itu masih terngiang di telinga Cinta. “Masih ingat, Mas. Mana orangnya yang mau dikenalkan sama Cinta?” Cinta celingukan mencari sosok manusia yang akan dikenalkan Rama. “Pasti ganteng,” baru kali ini Cinta bercanda dengan Rama.“Cantik. Nih fotonya. Rencananya besok lusa aku melamar dia.”Mendadak kepala Cinta terasa berat. Tak hanya gerimis yang menyerta kepedihan Cinta. Hujan dan angin beriringan membentangkan luka di dada Cinta
Kau tahu kalau kurma ini belum masak?” tanya Rama suatu hari di dua tahun pertama keberangkatannya saat ia pulang ke tanah air. Cinta hanya berdiri di depan pintu sambil menggelengkan kepala. Rama menyerahkan kurma itu seraya tersenyum. Tangannya memegang kepala yang terkena guyuran hujan dan sesekali menyibak rambutnya yang terbasahi air langit itu.“Sengaja aku bawakan kurma untuk keluarga kita. Biar tahu rasanya kurma yang setengah matang. Kalau di Mesir makan kurma paling enak saat udara panas. Tapi di sini tak ada salahnya kau cicip di musim hujan.”“Keluarga kita? Semoga saja memang aku mendapatkanmu sebagai pasangan hidup.” batin Cinta berkata-kata. “Aku akan ke rumahmu Februari dua tahun lagi,” Rama meminta Cinta untuk tetap menunggu hingga Februari dua tahun lagi.
Dua tahun selanjutnya Rama kembali. Kali ini sebulan lebih cepat. Cinta tampak kegirangan. Maklum saat itu Cinta tengah disibukkan oleh kegiatan perkuliahan cukup padat. Menurutnya kehadiran Rama dapat mendongkrak semangatnya yang hampir padam untuk menjalani kuliah. Tak ada yang teristimewa dari kepulangannya. Hanya sebuah cerita yang dialami Rama saat menerima sebuah bingkisan dari seorang kakek yang berpakaian lusuh. Awalnya Rama meremehkan kehadiran kakek tua itu sebagai pengemis. Pandangan semacam itu memang dipicu oleh penampilan sang kakek. Tak disangka, sang kakek memberinya sebuah bingkisan yang berisikan lembaran-lembaran uang. Selepas kakek itu pergi dari apartemennya, Rama menyadari bahwa keadaannya saat itu sangatlah menderita. Paceklik. Tak ada pemasukan sama sekali. Uang hasil menerjemahkan buku-buku berbahasa Arab ke dalam bahasa Inggris mengalami keterlambatan. Uang itulah sebagai pengganti sementara untuk memenuhi kebutuhannya selama beberapa waktu.Cinta hanya mendengarkan rangkaian cerita itu di balik gerimis yang menjarum di halaman rumahnya. Di akhir perbincangan itu Cinta memuji Rama. Ada raut kebahagiaan melingkupi wajah Rama. “Mas orang baik. Tentu saja banyak yang menolong. Mas memang beruntung.”Entah sebagai balasan atas pujian atau memang sebagai permintaan kembali untuk menanti kehadirannya, Rama menjanjikan akan ke Indonesia bulan Juni dua tahun lagi. Lagi-lagi untuk kali kesekian Cinta diuji kesetiaannya.
Seharusnya tak ada gerimis bulan Juni sebab sekian waktu tak ada hujan membasahi Bumi Pertiwi. Bulan yang telah dijanjikan Rama untuk menemui Cinta di Indonesia. Rama menunaikan janjinya tepat waktu. Bulan Juni. Hanya saja, ada yang tak tepat dari kehadirannya. Sama sekali Rama tak menunjukkan batang hidungnya. Meski, Cinta tahu obrolan-obrolan tetangga sebelah memuat kabar kedatangan Rama. Cinta hanya diam. Tak mungkin baginya untuk menyambangi rumah Rama. Sekadar untuk memastikan bahwa Rama tengah sowan ke Indonesia. Gerimis tak berhenti. Memagut cerahnya hari. Persis seperti apa yang dialami Cinta. Gerimis itu serupa tanya yang enggan hilang dari benaknya. Hingga mengubah perwajahan Cinta yang cerah menjadi sendu.Beberapa hari Cinta tak mendapati sosok yang begitu dekat di hatinya. Tapi, begitu semu. Tak nampak batang hidungnya. Hanya berkeliaran di rimba ingatan. Gerimis kian menjadi-jadi. Hingga muncul hujan. Merinai. Titik-titik air singgah di jendela. Berkali-kali Cinta memainkan titik air dengan ujung jarinya. Hawa begitu dingin menyelubungi alam mayapada. Sedingin jiwanya yang kini koyak oleh kerinduan yang berlarat-larat.Satu minggu telah terlewati tanpa satupun tanda-tanda yang bisa menenangkan jiwa renta Cinta. Pertemuan alangkah sejenis benda langka yang mesti digantungkan ke langit tinggi. Sebuah kemewahan rasa mumpuni, namun tak mampu terbeli. Bahkan kini rindu hanya terserak di gudang hati.Di hari ketujuh yang berarti hari terakhir Rama di Indonesia, Rama menitipkan bingkisan berupa dua lembar kertas. Satu kertas jumbo berisi 30 juz Al-Quran dengan huruf yang sangat kecil. Tentu saja, membacanya harus dengan menggunakan suryakanta atau kaca pembesar. Lainnya berupa lembaran kertas papirus yang terlapisi kertas dan memuat kaligrafi surat Al-Falaq yang didominasi warna merah, biru, serta putih. Di balik kaligrafi itu bermukim secarik kertas memuat sebait puisi yang ditulis tangan.Telah purna dhoifnya diri. Ditikam gerimis bertubi-tubi. Hendak merengkuh cinta hakiki. Tak jua terpatri di sanubari Cinta terpasung dalam geming dan makna puisi. Cinta bukanlah pujangga atau sastrawati yang mampu menterjemahkan maknanya. Hanya ada barisan rasa sepi yang bersebatin dengan dirinya kini. “Mbak, Mas Rama minta maaf nggak bisa ketemu. Sibuk ngurus visa. Apalagi ya…,” Asti -adik perempuan Mas Rama- mencoba mengingat-ingat pesan kakak kesayangannya itu. “Nggak apa-apa, kok,” jawab Cinta singkat. Cinta memperhatikan Asti yang tengah kepayahan mengingat pesan yang lupa itu. Beberapa waktu kemudian Asti tersenyum simpul. “Oh iya, Mas Rama baru bisa pulang dua tahun lagi. Sekarang Mas Rama kerja jadi marketing di perusahaan jus buat balita.” Gerimis masih terus berlanjut, meski Asti sudah meninggalkan jejaknya di ruang tamu rumah Cinta. Ada yang mengusik jiwa Cinta. Lagi-lagi hal itu membuat Cinta terseret pada pusaran kegelisahan. “Dua tahun? Aku sudah biasa menunggu selama itu. Tapi bulan apa? Kenapa tak kutanyakan?” Ada penyesalan tak berujung dirasakan oleh Cinta. Setidaknya angka dua adalah bagian yang tak bisa dihindari. Dua tahun untuk setia.
Tak pernah terpikir bahwa kehidupan tak selamanya menyimpan hal yang sama. Dua tahun tak selamanya akan berwujud dua tahun. Kiranya inilah kejadian yang sama sekali tak terduga oleh Cinta. Sebelas bulan dari Juni setahun sebelumnya. Seusai bingkisan itu tergenggam oleh Cinta, ada peristiwa sangat mengejutkan menghampiri Cinta. “Cinta, lusa Rama mau telepon kamu. Jam 8 malaman. Ibu sudah bilang supaya Rama menghubungi rumah kamu. Tapi, katanya ada berita penting untuk keluarga ini. Kamu diminta mendengarkannya. Kamu nggak keberatan kan?” “Tidak, tante,” perasaan Cinta mendadak tak menentu. Selain karena langkanya atau bahkan tak pernah Mas Rama menghubungi Cinta lewat telepon. Aneh! “Mengapa aku harus dilibatkan?” Cinta tak tahu misteri apa yang tengah ditimpakan Allah kepadanya.Tepat pukul delapan dua hari berikutnya, Cinta berbicara dua arah dengan Rama. Mendadak angin begitu kencang berhembus. Tentu saja mempengaruhi penerimaan suara dengan terputus-putus.“Cinta, bisa lebih keras ngomongnya? Aku nggak dengar. Di sana lagi gerimis atau udah hujan?” Hati Cinta jengkel mendengar pertanyaan dari Rama. Sudah dicoba berkali-kali mengeraskan suaranya. Tetap saja suara Cinta tak bisa didengar jelas oleh Rama. Belum lagi pertanyaan soal gerimis atau hujan. Cinta menganggap bukan saatnya menanyakan hal seperti itu. Apalagi sambungan internasional sangat menyedot pulsa.“Cinta, kalo Mas Rama kenalin Cinta sama seseorang mau nggak?”“Seseorang? Untuk apa Mas?”“Untuk hidup dan kemaslahatan.”“Memang siapa Mas? Kemaslahatan?”“Untuk Mas Rama dan kamu.”“Tunggu tanggal mainnya. Setahun lagi, ya.”Kalau setahun lagi mau berkenalan dengan seseorang, kenapa repot-repot menghubungiku, pikir Cinta.Setahun kemudian, sejarah kelam terpahat di kehidupan Cinta. Rama tiba di Indonesia dengan penampilan baru. Membiarkan jenggot dan cambang tumbuh. Tampak begitu gagah. Cinta tak bisa langsung mengenali sosok Rama. Hanya suara bariton Rama memberi sebuah tanda, kalau itu benar-benar suara Rama. Buncahan rindu yang bergejolak di hati Cinta sirna seketika. Sosok di hadapannya memberikan kebahagian tersendiri. Cinta yang kini tengah merintis karir di dunia periklanan seakan digodam kesadarannya akan pemenuhan setengah agamanya yang mesti diwujudkan.“Kamu masih ingat obrolan di telepon setahun lalu?”Obrolan di telepon itu masih terngiang di telinga Cinta. “Masih ingat, Mas. Mana orangnya yang mau dikenalkan sama Cinta?” Cinta celingukan mencari sosok manusia yang akan dikenalkan Rama. “Pasti ganteng,” baru kali ini Cinta bercanda dengan Rama.“Cantik. Nih fotonya. Rencananya besok lusa aku melamar dia.”Mendadak kepala Cinta terasa berat. Tak hanya gerimis yang menyerta kepedihan Cinta. Hujan dan angin beriringan membentangkan luka di dada Cinta
1000 Burung Kertas
Sewaktu Joe dan Anna baru pacaran, Joe melipat 1000 burung kertas buat Anna, menggantungkannya di dalam kamar Anna. Joe mengatakan, 1000 burung kertas itu menandakan 1000 ketulusan hatinya.
Waktu itu, Anna dan Joe setiap detik selalu merasakan betapa indahnya cinta mereka berdua.
Tetapi pada suatu saat, Anna mulai menjauhi Joe. Anna memutuskan untuk menikah dan pergi ke Perancis, ke Paris tempat yang dia impikan di dalam mimpinya berkali-kali itu!!
Sewaktu Anna mau mutusin Joe, Anna bilang sama Joe, "Kita harus melihat dunia ini dengan pandangan yang dewasa. Menikah bagi cewek adalah kehidupan kedua kalinya!! Aku harus bisa memegang kesempatan ini dengan baik. Kamu terlalu miskin, sungguh aku tidak berani membayangkan bagaimana kehidupan kita setelah menikah.!!"
Setelah Anna pergi ke Perancis, Joe bekerja keras, dia pernah menjual koran, menjadi karyawan sementara, bisnis kecil, setiap pekerjaan dia kerjakan dengan sangat baik dan tekun.
Sudah lewat beberapa tahun...
Karena pertolongan teman dan kerja kerasnya , akhirnya dia mempunyai sebuah perusahaan. Dia sudah kaya, tetapi hatinya masih tertuju pada Anna, dia masih tidak dapat melupakannya.
Pada suatu hari, waktu itu hujan, Joe dari mobilnya melihat sepasang orang tua berjalan sangat pelan di depan. Dia mengenali mereka, mereka adalah orang tua Anna.
Dia ingin mereka lihat kalau sekarang dia tidak hanya mempunyai mobil pribadi, tetapi juga mempunyai Vila dan perusahaan sendiri, ingin mereka tahu kalau dia bukan seorang yang miskin lagi, dia sekarang adalah seorang Bos. Joe mengendarai mobilnya sangat pelan sambil mengikuti sepasang orang tua tersebut.
Hujan terus turun, tanpa henti, biarpun kedua org tua itu memakai payung,tetapi badan mereka tetap basah karena hujan.
Sewaktu mereka sampai tempat tujuan, Joe tercengang oleh apa yang ada di depan matanya, itu adalah tempat pemakaman. Dia melihat di atas papan nisan Anna tersenyum sangat manis terhadapnya.
Di samping makamnya yang kecil, tergantung burung-burung kertas yang dibuatkan Joe, dalam hujan burung-burung kertas itu terlihat begitu hidup.
Orang tua Anna memberitahu Joe, Anna tidak pergi ke paris, Anna terserang kanker, Anna pergi ke surga. Anna ingin Joe menjadi orang, mempunyai keluarga yang harmonis, maka dengan terpaksa berbuat demikian terhadap Joe dulu. Anna bilang dia sangat mengerti Joe, dia percaya kalau Joe pasti akan berhasil.
Anna mengatakan, kalau pada suatu hari Joe akan datang ke makamnya dan berharap dia membawakan beberapa burung kertas buatnya lagi. Joe langsung berlutut, berlutut di depan makam Anna, menangis dengan begitu sedihnya.
Hujan pada hari Valentine itu terasa tidak akan berhenti, membasahi sekujur tubuh Joe. Joe teringat senyum manis Anna yang begitu manis dan polos, mengingat semua itu, hatinya mulai meneteskan darah.
Sewaktu Orang tua ini keluar dari pemakaman, mereka melihat kalau Joe sudah membukakan pintu mobil untuk mereka. Lagu sedih terdengar dari dalam mobil tersebut.
Hatiku tidak pernah menyesal,
Semuanya hanya untukmu 1000 burung kertas,
1000 ketulusan hatiku,
Beterbangan di dalam angin
Menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit,
Melewati sungai perak,
Apakah aku bisa bertemu denganmu?
Tidak takut berapapun jauhnya,
Hanya ingin sekarang langsung berlari ke sampingmu.
Masa lalu seperti asap, hilang dan tak kan kembali,
Menambah kerinduan di hatiku.
Bagaimanapun dicari,
Jodoh kehidupan ini pasti tidak akan berubah.
Waktu itu, Anna dan Joe setiap detik selalu merasakan betapa indahnya cinta mereka berdua.
Tetapi pada suatu saat, Anna mulai menjauhi Joe. Anna memutuskan untuk menikah dan pergi ke Perancis, ke Paris tempat yang dia impikan di dalam mimpinya berkali-kali itu!!
Sewaktu Anna mau mutusin Joe, Anna bilang sama Joe, "Kita harus melihat dunia ini dengan pandangan yang dewasa. Menikah bagi cewek adalah kehidupan kedua kalinya!! Aku harus bisa memegang kesempatan ini dengan baik. Kamu terlalu miskin, sungguh aku tidak berani membayangkan bagaimana kehidupan kita setelah menikah.!!"
Setelah Anna pergi ke Perancis, Joe bekerja keras, dia pernah menjual koran, menjadi karyawan sementara, bisnis kecil, setiap pekerjaan dia kerjakan dengan sangat baik dan tekun.
Sudah lewat beberapa tahun...
Karena pertolongan teman dan kerja kerasnya , akhirnya dia mempunyai sebuah perusahaan. Dia sudah kaya, tetapi hatinya masih tertuju pada Anna, dia masih tidak dapat melupakannya.
Pada suatu hari, waktu itu hujan, Joe dari mobilnya melihat sepasang orang tua berjalan sangat pelan di depan. Dia mengenali mereka, mereka adalah orang tua Anna.
Dia ingin mereka lihat kalau sekarang dia tidak hanya mempunyai mobil pribadi, tetapi juga mempunyai Vila dan perusahaan sendiri, ingin mereka tahu kalau dia bukan seorang yang miskin lagi, dia sekarang adalah seorang Bos. Joe mengendarai mobilnya sangat pelan sambil mengikuti sepasang orang tua tersebut.
Hujan terus turun, tanpa henti, biarpun kedua org tua itu memakai payung,tetapi badan mereka tetap basah karena hujan.
Sewaktu mereka sampai tempat tujuan, Joe tercengang oleh apa yang ada di depan matanya, itu adalah tempat pemakaman. Dia melihat di atas papan nisan Anna tersenyum sangat manis terhadapnya.
Di samping makamnya yang kecil, tergantung burung-burung kertas yang dibuatkan Joe, dalam hujan burung-burung kertas itu terlihat begitu hidup.
Orang tua Anna memberitahu Joe, Anna tidak pergi ke paris, Anna terserang kanker, Anna pergi ke surga. Anna ingin Joe menjadi orang, mempunyai keluarga yang harmonis, maka dengan terpaksa berbuat demikian terhadap Joe dulu. Anna bilang dia sangat mengerti Joe, dia percaya kalau Joe pasti akan berhasil.
Anna mengatakan, kalau pada suatu hari Joe akan datang ke makamnya dan berharap dia membawakan beberapa burung kertas buatnya lagi. Joe langsung berlutut, berlutut di depan makam Anna, menangis dengan begitu sedihnya.
Hujan pada hari Valentine itu terasa tidak akan berhenti, membasahi sekujur tubuh Joe. Joe teringat senyum manis Anna yang begitu manis dan polos, mengingat semua itu, hatinya mulai meneteskan darah.
Sewaktu Orang tua ini keluar dari pemakaman, mereka melihat kalau Joe sudah membukakan pintu mobil untuk mereka. Lagu sedih terdengar dari dalam mobil tersebut.
Hatiku tidak pernah menyesal,
Semuanya hanya untukmu 1000 burung kertas,
1000 ketulusan hatiku,
Beterbangan di dalam angin
Menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit,
Melewati sungai perak,
Apakah aku bisa bertemu denganmu?
Tidak takut berapapun jauhnya,
Hanya ingin sekarang langsung berlari ke sampingmu.
Masa lalu seperti asap, hilang dan tak kan kembali,
Menambah kerinduan di hatiku.
Bagaimanapun dicari,
Jodoh kehidupan ini pasti tidak akan berubah.
Arti Sebuah Sikap...
John Blanford berdiri tegak dari bangku di Stasiun Kereta Api sambil
melihat ke arah jarum jam, pukul 6 kurang 6 menit. John sedang menunggu
seorang gadis yang dekat dalam hatinya tetapi tidak mengenal wajahnya,
seorang gadis dengan setangkai mawar.
Lebih dari setahun yang lalu John membaca buku yang dipinjam dari
Perpustakaan. Rasa ingin tahunya terpancing saat ia melihat coretan tangan
yang halus di buku tersebut. Pemilik terdahulu buku tersebut adalah seorang
gadis bernama Hollis Molleon. Hollis tinggal di New York dan John di
Florida. John mencoba menghubungi sang gadis dan mengajaknya untuk saling
bersurat. Beberapa hari kemudian, John dikirim ke medan perang, Perang Dunia
II. Mereka terus saling menyurati selama hampir 1 tahun. Setiap surat
seperti layaknya bibit yang jatuh di tanah yang subur dalam hati
masing-masing dan jalinan cinta merekapun tumbuh.
John berkali-kali meminta agar Hollis mengirimkannya sebuah foto. Tetapi
sang gadis selalu menolak, kata sang gadis "Kalau perasaan cintamu
tulus,John, bagaimanapun rupaku tidak akan merubah perasaan itu, kalau saya
cantik, selama hidup saya akan bertanya-tanya apakah mungkin perasaanmu itu
hanya karena saya cantik saja, kalau saya biasa-biasa atau cenderung jelek,
saya takut kamu akan terus menulis hanya karena kesepian dan tidak ada orang
lain lagi dimana kamu bisa mengadu. Jadi sebaiknya kamu tidak usah tahu
bagaimana rupa saya. Sekembalinya kamu ke New York nanti kita akan bertemu
muka. Pada saat itu kita akan bebas untuk menentukan apa yang akan kita
lakukan."
Mereka berdua membuat janji untuk bertemu di Stasiun Pusat di New York pukul
6 sore setelah perang usai. "Kamu akan mengenali saya, John, karena saya
akan menyematkan setangkai bunga mawar merah pada kera bajuku", kata Nona
Hollis.
Pukul 6 kurang 1 menit sang perwira muda semakin gelisah, tiba-tiba
jantungnya hampir copot, dilihatnya seorang gadis yang sangat cantik berbaju
hijau lewat di depannya, tubuhnya ramping, rambutnya pirang bergelombang,
matanya biru seperti langit, luar biasa cantiknya.... Sang perwira mulai
menyusul sang gadis, dia bahkan tidak menghiraukan kenyataan bahwa sang
gadis tidak mengenakan bunga mawar seperti yang telah disepakati. Hanya
tinggal 1 langkah lagi kemudian John melihat seorang wanita berusia 40 tahun
mengenakan sekumtum mawar merah di kerahya. "O....itu Hollis!!!!"
Rambutnya sudah mulai beruban dan agak gemuk. Gadis berbaju hijau hampir
menghilang. Perasaan sang perwira mulai terasa terbagi 2 ingin lari mengejar
sang gadis cantik tetapi pada sisi lain tidak ingin menghianati Hollis yang
lembut dan telah setia menemaninya selama perang. Tanpa berpikir panjang,
John berjalan menghampiri wanita yang berusia setengah baya itu dan
menyapanya, "Nama saya John Blanford, anda tentu saja Nona Hollis, bahagia
sekali bisa bertemu dengan anda, maukah anda makan malam bersama saya?" Sang
wanita tersenyum ramah dan berkata "Anak muda, saya tidak tahu apa artinya
semua ini, tetapi seorang gadis yang berbaju hijau yang baru saja lewat
memaksa saya untuk mengenakan bunga mawar ini dan dia mengatakan kalau anda
mengajak saya makan maka saya diminta untuk memberitahu anda bahwa dia
menunggu anda di restoran di ujung jalan ini, katanya semua ini hanya ingin
menguji anda." (NN)
Pernahkah terpikir oleh anda sekalian, bahwa si pemuda bernama John Blanford
di atas akan menarik semua perkataan-perkataan cinta romantis yang pernah di
tulis dalam surat-suratnya apabila, katakanlah memang benar ternyata Nona
Hollis hanyalah seorang wanita gemuk dengan rambut hampir beruban. Untunglah
John seorang yang sangat cerdas dan berhikmat. Dia bisa saja berpikir pasti
dapat mengeluarkan sebuah alasan lain untuk mengagalkan lamarannya. Dan
tentunya jika itu terjadi, maka cerita ini pasti tidak akan ada.
Seseorang akan sangat mudah tertipu dan tergoda untuk mengikuti mata jasmani
dan mengabaikan kata hati. Orang lebih menyukai apa yang dapat dia lihat
dan sentuh dari pada apa yang dapat dirasakan dan di sentuh oleh hatinya.
Ini adalah salah satu titik kegagalan manusia dalam menjalani kehidupannya
sebagai orang yang beriman. Kita lebih tertarik melihat sebuah senyuman
manis, dari pada sikap hati. Kita lebih menyukai bola mata yang bulat dan
bening ketimbang mata hati yang tajam dan peka. Kita lebih menyukai wajah
rupawan dari pada karakter yang bagus. Singkat kata, kita semua lebih
menyukai hal-hal yang bersifat jasmaniah ketimbang hal-hal rohaniah. Itulah
sebabnya seringkali kita tersandung karena ulah kita
sendiri!
melihat ke arah jarum jam, pukul 6 kurang 6 menit. John sedang menunggu
seorang gadis yang dekat dalam hatinya tetapi tidak mengenal wajahnya,
seorang gadis dengan setangkai mawar.
Lebih dari setahun yang lalu John membaca buku yang dipinjam dari
Perpustakaan. Rasa ingin tahunya terpancing saat ia melihat coretan tangan
yang halus di buku tersebut. Pemilik terdahulu buku tersebut adalah seorang
gadis bernama Hollis Molleon. Hollis tinggal di New York dan John di
Florida. John mencoba menghubungi sang gadis dan mengajaknya untuk saling
bersurat. Beberapa hari kemudian, John dikirim ke medan perang, Perang Dunia
II. Mereka terus saling menyurati selama hampir 1 tahun. Setiap surat
seperti layaknya bibit yang jatuh di tanah yang subur dalam hati
masing-masing dan jalinan cinta merekapun tumbuh.
John berkali-kali meminta agar Hollis mengirimkannya sebuah foto. Tetapi
sang gadis selalu menolak, kata sang gadis "Kalau perasaan cintamu
tulus,John, bagaimanapun rupaku tidak akan merubah perasaan itu, kalau saya
cantik, selama hidup saya akan bertanya-tanya apakah mungkin perasaanmu itu
hanya karena saya cantik saja, kalau saya biasa-biasa atau cenderung jelek,
saya takut kamu akan terus menulis hanya karena kesepian dan tidak ada orang
lain lagi dimana kamu bisa mengadu. Jadi sebaiknya kamu tidak usah tahu
bagaimana rupa saya. Sekembalinya kamu ke New York nanti kita akan bertemu
muka. Pada saat itu kita akan bebas untuk menentukan apa yang akan kita
lakukan."
Mereka berdua membuat janji untuk bertemu di Stasiun Pusat di New York pukul
6 sore setelah perang usai. "Kamu akan mengenali saya, John, karena saya
akan menyematkan setangkai bunga mawar merah pada kera bajuku", kata Nona
Hollis.
Pukul 6 kurang 1 menit sang perwira muda semakin gelisah, tiba-tiba
jantungnya hampir copot, dilihatnya seorang gadis yang sangat cantik berbaju
hijau lewat di depannya, tubuhnya ramping, rambutnya pirang bergelombang,
matanya biru seperti langit, luar biasa cantiknya.... Sang perwira mulai
menyusul sang gadis, dia bahkan tidak menghiraukan kenyataan bahwa sang
gadis tidak mengenakan bunga mawar seperti yang telah disepakati. Hanya
tinggal 1 langkah lagi kemudian John melihat seorang wanita berusia 40 tahun
mengenakan sekumtum mawar merah di kerahya. "O....itu Hollis!!!!"
Rambutnya sudah mulai beruban dan agak gemuk. Gadis berbaju hijau hampir
menghilang. Perasaan sang perwira mulai terasa terbagi 2 ingin lari mengejar
sang gadis cantik tetapi pada sisi lain tidak ingin menghianati Hollis yang
lembut dan telah setia menemaninya selama perang. Tanpa berpikir panjang,
John berjalan menghampiri wanita yang berusia setengah baya itu dan
menyapanya, "Nama saya John Blanford, anda tentu saja Nona Hollis, bahagia
sekali bisa bertemu dengan anda, maukah anda makan malam bersama saya?" Sang
wanita tersenyum ramah dan berkata "Anak muda, saya tidak tahu apa artinya
semua ini, tetapi seorang gadis yang berbaju hijau yang baru saja lewat
memaksa saya untuk mengenakan bunga mawar ini dan dia mengatakan kalau anda
mengajak saya makan maka saya diminta untuk memberitahu anda bahwa dia
menunggu anda di restoran di ujung jalan ini, katanya semua ini hanya ingin
menguji anda." (NN)
Pernahkah terpikir oleh anda sekalian, bahwa si pemuda bernama John Blanford
di atas akan menarik semua perkataan-perkataan cinta romantis yang pernah di
tulis dalam surat-suratnya apabila, katakanlah memang benar ternyata Nona
Hollis hanyalah seorang wanita gemuk dengan rambut hampir beruban. Untunglah
John seorang yang sangat cerdas dan berhikmat. Dia bisa saja berpikir pasti
dapat mengeluarkan sebuah alasan lain untuk mengagalkan lamarannya. Dan
tentunya jika itu terjadi, maka cerita ini pasti tidak akan ada.
Seseorang akan sangat mudah tertipu dan tergoda untuk mengikuti mata jasmani
dan mengabaikan kata hati. Orang lebih menyukai apa yang dapat dia lihat
dan sentuh dari pada apa yang dapat dirasakan dan di sentuh oleh hatinya.
Ini adalah salah satu titik kegagalan manusia dalam menjalani kehidupannya
sebagai orang yang beriman. Kita lebih tertarik melihat sebuah senyuman
manis, dari pada sikap hati. Kita lebih menyukai bola mata yang bulat dan
bening ketimbang mata hati yang tajam dan peka. Kita lebih menyukai wajah
rupawan dari pada karakter yang bagus. Singkat kata, kita semua lebih
menyukai hal-hal yang bersifat jasmaniah ketimbang hal-hal rohaniah. Itulah
sebabnya seringkali kita tersandung karena ulah kita
sendiri!
Mawar Merah
Mawar merah adalah kecintaannya, nama orangnya sendiri juga "Mawar". Dan setiap tahun suaminya selalu mengirimkan mawar-mawar itu, diikat dengan pita indah. Pada tahun suaminya meninggal dia mendapat kiriman mawar lagi. Kartunya tertulis "Be My Valentine like all the years before".
Sebelumnya, setiap tahun suaminya mengirimkan mawar,dan kartunya selalu tertulis, "Aku mencintaimu lebih lagi tahun ini, kasihku selalu bertumbuh untukmu seturut waktu yang berlalu."
Dia tahu ini adalah terakhir kali suaminya mengirimkan mawar-mawar itu. Dia tahu suaminya memesan semua itu dengan bayar di muka sebelum hari pengiriman. Suaminya tidak tahu kalau dia akan meninggal. Dia selalu suka melakukan segala sesuatu sebelum waktunya. Sehingga ketika suaminya sangat sibuk sekalipun, segala sesuatunya dapat berjalan dengan baik.
Lalu Mawar memotong batang mawar-mawar itu dan menempatkan semuanya dalam satu vas bunga yang sangat indah. Dan meletakkan vas cantik itu disebelah potret suaminya tercinta. Kemudian dia akan betah duduk berjam-jam dikursi kesayangan suaminya sambil memandangi potret suaminya dan bunga-bunga mawar itu.
Setahun telah lewat, dan itu adalah saat yang sangat sulit baginya. Dengan kesendiriannya dijalaninya semua. Sampai hari ini, Valentine ini...
Beberapa saat kemudian, bel pintu rumahnya berbunyi, seperti hari-hari Valentine sebelumnya. Ketika dibukanya, dilihatnya buket mawar di depan pintunya. Dibawanya masuk, dan tiba-tiba seakan terkejut melihatnya.
Kemudian dia langsung menelpon toko bunga itu. Ditanyakannya kenapa ada seseorang yang begitu kejam melakukan semua itu padanya, membuat dia teringat kepada suaminya... dan itu sangat menyakitkan ...
Lalu pemilik toko itu menjawabnya, "Saya tahu kalau suami Nyonya telah meninggal lebih dari setahun yang lalu. Saya tahu anda akan menelpon dan ingin tahu mengapa semua ini terjadi. Begini Nyonya, bunga yang anda terima hari ini sudah di bayar di muka oleh suami anda. Suami anda selalu merencanakannya dulu dan rencana itu tidak akan berubah. Ada standing order di file saya, dan dia telah membayar semua, maka anda akan menerima bunga-bunga itu setiap tahun. Ada lagi yang harus anda ketahui, dia menulis surat special untuk anda, ditulisnya bertahun-tahun yang lalu, dimana harus saya kirimkan kepada anda satu tahun kemudian jika dia tidak muncul lagi di sini memesan bunga mawar untuk anda. Lalu, tahun kemarin, saya tidak temukan dia di sini, maka surat itu harus saya kirimkan setahun lagi, yaitu tahun ini, surat yang ada bersama dengan bunga itu sekarang, bersama dengan Nyonya saat ini."
Mawar mengucapkan terima kasih dan menutup telepon, dia langsung menuju ke buket bunga mawar itu, sedangkan air matanya terus menetes. Dengan tangan gemetar diambilnya surat itu Di dalam surat itu dilihatnya tulisan tangan suaminya menulis:
"Dear kekasihku,
aku tahu ini sudah setahun semenjak aku pergi. Aku harap tidak sulit bagimu untuk menghadapi semua ini. Kau tahu, semua cinta yang pernah kita jalani membuat segalanya indah bagiku, kau adalah istri yang sempurna bagiku. Kau juga adalah seorang teman dan kekasihku yang memberikan semua kebutuhanku.
Aku tahu ini baru setahun... tapi tolong jangan bersedih... aku ingin kau selalu bahagia... Walaupun saat kau hapus air matamu... Itulah mengapa mawar-mawar itu akan selalu dikirimkan kepadamu. Ketika kau terima mawar itu, ingatlah semua kebahagiaan kita, dan betapa kita begitu diberkati...
Aku selalu mengasihimu... dan aku tahu akan selalu mengasihimu...
Tapi... istriku, kau harus tetap berjalan... kau punya kehidupan... Cobalah untuk mencari kebahagiaan untuk dirimu. Aku tahu tidak akan mudah tapi pasti ada jalan. Bunga mawar itu akan selalu datang setiap tahun... dan hanya akan berhenti ketika pintu rumahmu tidak ada yang menjawab dan pengantar bunga berhenti mengetuk pintu rumahmu... Tapi kemudian dia akan datang 5 kali hari itu, takut kalau engkau sedang pergi... Tapi jika pada kedatangannya yang terakhir dia tetap tidak menemukanmu... Dia akan meletakkan bunga itu ke tempat yang ku suruh... meletakkan bunga-bunga mawar itu ditempat dimana kita berdua bersama lagi.. untuk selamanya...
I LOVE YOU MORE THAN LAST YEAR,... HONEY..."
Sometimes in life, you find a special friend;
Someone who changes your life just by being part of it;
Someone who makes you laugh until you can't stop;
Someone who makes you believe that there really is good in the world;
Someone who convinces you that there really is an unlocked door just waiting for you to open it.
Sebelumnya, setiap tahun suaminya mengirimkan mawar,dan kartunya selalu tertulis, "Aku mencintaimu lebih lagi tahun ini, kasihku selalu bertumbuh untukmu seturut waktu yang berlalu."
Dia tahu ini adalah terakhir kali suaminya mengirimkan mawar-mawar itu. Dia tahu suaminya memesan semua itu dengan bayar di muka sebelum hari pengiriman. Suaminya tidak tahu kalau dia akan meninggal. Dia selalu suka melakukan segala sesuatu sebelum waktunya. Sehingga ketika suaminya sangat sibuk sekalipun, segala sesuatunya dapat berjalan dengan baik.
Lalu Mawar memotong batang mawar-mawar itu dan menempatkan semuanya dalam satu vas bunga yang sangat indah. Dan meletakkan vas cantik itu disebelah potret suaminya tercinta. Kemudian dia akan betah duduk berjam-jam dikursi kesayangan suaminya sambil memandangi potret suaminya dan bunga-bunga mawar itu.
Setahun telah lewat, dan itu adalah saat yang sangat sulit baginya. Dengan kesendiriannya dijalaninya semua. Sampai hari ini, Valentine ini...
Beberapa saat kemudian, bel pintu rumahnya berbunyi, seperti hari-hari Valentine sebelumnya. Ketika dibukanya, dilihatnya buket mawar di depan pintunya. Dibawanya masuk, dan tiba-tiba seakan terkejut melihatnya.
Kemudian dia langsung menelpon toko bunga itu. Ditanyakannya kenapa ada seseorang yang begitu kejam melakukan semua itu padanya, membuat dia teringat kepada suaminya... dan itu sangat menyakitkan ...
Lalu pemilik toko itu menjawabnya, "Saya tahu kalau suami Nyonya telah meninggal lebih dari setahun yang lalu. Saya tahu anda akan menelpon dan ingin tahu mengapa semua ini terjadi. Begini Nyonya, bunga yang anda terima hari ini sudah di bayar di muka oleh suami anda. Suami anda selalu merencanakannya dulu dan rencana itu tidak akan berubah. Ada standing order di file saya, dan dia telah membayar semua, maka anda akan menerima bunga-bunga itu setiap tahun. Ada lagi yang harus anda ketahui, dia menulis surat special untuk anda, ditulisnya bertahun-tahun yang lalu, dimana harus saya kirimkan kepada anda satu tahun kemudian jika dia tidak muncul lagi di sini memesan bunga mawar untuk anda. Lalu, tahun kemarin, saya tidak temukan dia di sini, maka surat itu harus saya kirimkan setahun lagi, yaitu tahun ini, surat yang ada bersama dengan bunga itu sekarang, bersama dengan Nyonya saat ini."
Mawar mengucapkan terima kasih dan menutup telepon, dia langsung menuju ke buket bunga mawar itu, sedangkan air matanya terus menetes. Dengan tangan gemetar diambilnya surat itu Di dalam surat itu dilihatnya tulisan tangan suaminya menulis:
"Dear kekasihku,
aku tahu ini sudah setahun semenjak aku pergi. Aku harap tidak sulit bagimu untuk menghadapi semua ini. Kau tahu, semua cinta yang pernah kita jalani membuat segalanya indah bagiku, kau adalah istri yang sempurna bagiku. Kau juga adalah seorang teman dan kekasihku yang memberikan semua kebutuhanku.
Aku tahu ini baru setahun... tapi tolong jangan bersedih... aku ingin kau selalu bahagia... Walaupun saat kau hapus air matamu... Itulah mengapa mawar-mawar itu akan selalu dikirimkan kepadamu. Ketika kau terima mawar itu, ingatlah semua kebahagiaan kita, dan betapa kita begitu diberkati...
Aku selalu mengasihimu... dan aku tahu akan selalu mengasihimu...
Tapi... istriku, kau harus tetap berjalan... kau punya kehidupan... Cobalah untuk mencari kebahagiaan untuk dirimu. Aku tahu tidak akan mudah tapi pasti ada jalan. Bunga mawar itu akan selalu datang setiap tahun... dan hanya akan berhenti ketika pintu rumahmu tidak ada yang menjawab dan pengantar bunga berhenti mengetuk pintu rumahmu... Tapi kemudian dia akan datang 5 kali hari itu, takut kalau engkau sedang pergi... Tapi jika pada kedatangannya yang terakhir dia tetap tidak menemukanmu... Dia akan meletakkan bunga itu ke tempat yang ku suruh... meletakkan bunga-bunga mawar itu ditempat dimana kita berdua bersama lagi.. untuk selamanya...
I LOVE YOU MORE THAN LAST YEAR,... HONEY..."
Sometimes in life, you find a special friend;
Someone who changes your life just by being part of it;
Someone who makes you laugh until you can't stop;
Someone who makes you believe that there really is good in the world;
Someone who convinces you that there really is an unlocked door just waiting for you to open it.
Dia Itu Sahabatku
Seminggu yang lalu ada seorang lelaki yang sedang berjalan sendiri melangkahkan kakinya di hamparan jalan yang berdebu. Terlihat di matanya setetes air mata yang berlinang dan seakan akan jatuh ke bumi, entah apa yang sedang dipikirkannya. Tak ada satu katapun diucapkannya, ia hanya berjalan dan berjalan tanpa suatu kepastian.
Aku lalu mendekati lelaki itu dengan penuh rasa ingin tahu. Aku bertanya padanya kenapa ia mengangis dan berjalan dengan lamun pikirannya. Tapi ia tak menjawab, aku lalu bertanya lagi dengan nada yang sedikit memaksa.
Ia hanya diam menatap ku, mungkin ia terkejut melihat seorang yang tak ia kenal bertanya kepadanya. Tapi aku tak peduli karena aku seakan mengerti apa yang dirasakannya. Perlahan ia bangkit dari diamnya dan berkata "aku...aku kini mengerti...".
Aku semakin bingung apa maksudnya, aku kemudian melihat dirinya yang seakan ingin berlari ke tengah jalan yang sedang ramai. Tanpa pikir panjang aku mengejarnya dan meraih tangannya, kutarik tangan itu dengan segenap kekuatan yang kumiliki.
Tapi ia kemudian marah dan kesal dengan apa yang telah kulakukan, seakan ia tak ingin aku menyelamatkan dirinya dari maut yang sudah mengincarnya. "Apa kamu sudah gila!!!", kataku padanya sambil berteriak. Ia lalu terduduk, diam dan diam...
Matanya menatap ke arah langit yang sedang meredup, perlahan ia lalu bercerita dan berkata kepada diriku. "Aku dulu adalah seorang yang bahagia", katanya. Kemudian ia melanjutkan ceritanya kepadaku.
Aku sangat bahagia dengan apa yang kumiliki, tak ada seorangpun yang bisa merebut senyum yang selalu terpancar di wajahku. Walaupun aku tak memiliki seorang pacar tapi aku tetap merasa senang karena aku merasa memiliki seorang teman yang selalu menemani hari-hariku. Temanku itu sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri.
Hari itu kami jalan ke sebuah mal di kota tempat kami tinggal, aku melihat seorang cewek yang menarik bagiku. Temanku lalu menyuruh aku untuk berkenalan dengan dia. Awalnya aku malu, tapi setelah sahabatku memaksa dan terus memaksa, akhirnya aku memberanikan diri untuk berkenalan.
Tapi cewek itu seakan tak menganggap diriku, ia hanya cuek dan terus berjalan tak menanggapiku. Aku pun kembali ke tempat temanku sambil sedikit tersenyum dan berkata "udah biasa sob, mana ada cewek yang amu ama gua, hahaaha...". Temanku lalu tersenyum kepadaku, o ya nama teman ku itu adalah tia. Ya sahabatku itu adalah seoarang wanita, yang selalu setia mendengar keluh kesah yang kurasakan.
Beberapa hari dari kejadian itu, seakan tia selalu ingin mencarikan seorang pacar untuk aku, tapi tetap saja semua cewek yang ia kenalkan kepada ku selalu menolak saat akan berkenalan dengan aku. Mungkin karena wajahku yang jelek dan pas-pasan.
Namun aku tetap merasa senang karena aku masih memiliki seorang sahabat seperti tia, seorang sahabat yang cantik, baik, dan perhatian. Tapi walaupun demikian tak pernah terlintas di otakku ingin memiliki dia sebagai pacar. Dan aku tahu aku tak pantas untuk menjadi cowoknya karena aku tak layak untuk dirinya.
Semakin lama aku menemani dia, semakin besar rasa yang kurasakan, entah apa itu. Aku merasa bila dia tak ada disampingku, aku merasa sepi dan gundah, apa aku jatuh cinta kepadanya?. Tapi ia seakan tak menyadari apa yang kurasakan dan terus menjodohkan aku dengan teman-teman ceweknya, aku hanya tersenyum ketika melihatnya menatap mataku.
Hari itu aku sedang memetik gitar dengan alunan nada yang indah, tiba-tiba handphone ku berdering dengan kerasnya, ketika kujawab ternyata dari sahabatku tia. Aku sangat senang menerima telephone darinya. Tapi ketika kujawab, kudengar suaranya serak seakan sedang menangis. Aku lalu bertanya kepadanya, dia hanya menjawab dengan sebuah kalimat "aku akan pergi...".
Aku bingung, aku lalu mengambil kunci mobilku dan bergegas menuju rumahnya, Ketika aku tiba di rumahnya, aku tak melihat mobilnya disana. Aku lalu mengetuk pintu rumahnya, dan hanya seorang penjaga rumah yang menyambut kedatanganku. Ia lalu mengatakan padaku bahwa tia dan papanya barusan berangkat ke bandara karena akan pindah ke luar negeri.
Tanpa pikir lagi, aku menuju ke bandara walaupun aku tak tahu ia akan kemana dan naik pesawat apa. Setiba disana aku kemudian berlari menuju pintu keberangkatan, dari kejauhan mataku menatap sosok tia yang sedang berdiri diam dan menunggu di depan pintu keberangkatan.
Kulangkahkan kakiku, kuberlari dan kuberteriak memanggil namanya. Tia!!!...aku yakin dia mendengar suaraku, ketika aku sampai di depan pintu keberangkatan, aku tak melihat sahabatku itu. Aku terus mencari dengan air mata yang berlinang di mataku, tapi tetap tak kutemui. Aku terus berteriak dan berteriak, Tia!!!...Tia!!!...
Tak ada yang menjawab, hanya orang-orang yang menatap diriku dan berpikir bahwa aku sudah gila!. Aku terduduk di lantai yang dingin itu, tak kusadari air mata mengalir dari pipiku jatuh ke bumi seakan terbang bersayap.
Tapi dalam tangisku itu aku terus memanggil nama tia dan perlahan berkata "aku cinta kamu tia, aku cinta kamu...". Baru kusadari bahwa cinta yang telah lama kucari selama ini ternyata selalu ada di dekatku, tapi aku tak pernah menyadarinya hingga ia pergi meninggalkanku.
Sampai saat ini aku ga pernah lagi ketemu dengan sahabatku itu, itulah yang membuat aku merasa sedih seperti sekarang ini. Walaupun waktu sudah berjalan hampir satu tahun semenjak dia pergi dari hari-hariku tapi aku ga pernah melupakan dia. Senyumnya, tawanya dan candanya selalu terbayang di ingatanku.
Mendengar cerita dari laki-laki ini, aku terdiam dan kemudian bertanya padanya "memang kamu ga pernah dihubungi oleh tia itu?". Ia lalu menjawab, "dia pernah sekali mengirimkan sms ke hp ku, katanya sekarang dia lagi di bandung".
"Loh bagus donk, kan kamu bisa ketemu dengan dia", kataku kepada lelaki itu. "Ya memang aku bisa bertemu dengan dia sekarang, tapi untuk apa aku bertemu dengan dia kalau cuma akan menyakiti", jawabnya.
Ia lalu memperlihatkan isi sms yang dikirimkan oleh tia kepada laki-laki itu...isinya seperti ini.
Hallo romi, gimana kabarnya?...aku lagi ada dibandung nih, o ya datang ya ke pesta ulang tahun aku ntar malam, o ya nanti malam sekalian aku kenalin kamu ke pacar aku hehehe...gimana kamu udah dapat cewek blum?, jangan jomblo mulu donk, malu ama umur huhuuhuh...
Ternyata nama laki-laki itu adalah romi, aku kemudian berkata padanya setelah membaca isi sms itu "aku tahu kamu cinta dia, dan aku tahu seperti apa sakit yang kamu rasakan, mungkin aku ga berhak memberikan pendapat karena kamu pasti mengira bahwa aku ga pernah mengerti sedih yang kamu rasakan saat ini, tapi percayalah...jalan satu-satunya dan yang terbaik adalah kamu datang ke pesta ulang tahunnya dan katakan bahwa kamu cinta dia, apapun keputusannya kamu harus menerimanya...aku bakal nemenin kamu ntar malam kalau kamu mau...".
Romi awalnya diam dan kemudian perlahan menjawab "mungkin kamu benar,,,ok ntar malam kamu temenin aku ya...", jawabnya sambil tersenyum.
Ketika malam datang, romi telah menungguku di tempat kami bertemu tadi, dengan dandanan yang rapi dan gagah dia mendatangiku dan langsung mengajakku untuk naik ke mobilnya, tanpa menunggu lagi kami langsung berangkat menuju ke rumah tia.
Terlihat suasana yang sangat ramai dan meriah di sana. Romi terlihat ragu ketika akan melangkah ke dalam rumah itu, tapi aku terus memberikan semangat kepadanya. Kemudian ia memberanikan dirinya untuk masuk, ia lalu menunjukkan kepadaku tia seorang sahabat dan seorang gadis yang sangat dicintainya.
Aku melihat sosok tia itu sangat cantik dan menarik, senyumnya seakan membiusku. Aku lalu membisikkan kepada romi untuk memberikan kado yang sudah dipersiapkannya kepada tia, dan jangan lupa untuk mengatakan bahwa kamu cinta dia.
Namun ketika romi akan melangkah ke arah tia, tiba-tiba terdengar suara pembawa acara, kita sambut tia yang akan menyanyikan sebuah lagu. Mendengar suara tersebut, romi berhenti melangkah dan terdiam. Tia lalu bernyanyi dengan suara yang indah dan membuat seluruh tamu terpana, di akhir lagunya ketika tia selesai melantunkan sebuah lagu, ia lalu berkata, lagu ini untuk seorang yang sangat aku sayangi.
Para tamu yang hadir kemudian berteriak "Huuuu...siapa tu!!!"...Tia melihat seorang lelaki yang wajahnya terlihat bukan dari negara kita, mungkin ia adalah cowok yang dikenal tia di luar negeri sana.
Setelah tia bernyanyi, papa tia pun berjalan ke arahnya dan menyampaikan beberapa kata, aku terkejut ketika mendengar kata-kata papanya, "hari ini tia akan memperkenalkan seoarang cowok yang sangat dicintainya, dan hari ini juga saya akan meresmikan hubungan mereka dengan pertunangan.
Aku menatap ke arah romi, terlihat tatapan kosong di matanya...aku tahu apa yang ia rasakan. Tia lalu berkata melalui sebuah mikropon yang digenggamnya, "hari ini saya akan memperkenalkan seorang cowok yang sangat saya cintai, berhubung papa saya memaksa saya untuk langsung saja tunangan dengan cowok itu hehehe...tapi kan ga bisa maksa juga, kali aja tu cowok ga suka dengan aku...", kata tia sambil tertawa.
Ketika tia sedang berbicara, seoarang cowok bule tadi berjalan ke arah tia, "apakah cowok itu yang tia maksud?", tanyaku dalam hati. Melihat hal ini, romi datang ke arahku dan berkata padaku, "ayo kita pulang, ga ada gunanya kita disini...".
Tapi tiba-tiba ketika kami akan berjalan keluar rumah itu, aku mendengar tia berkata "benerkan ga bisa maksa untuk tunangan hari ini, kali aja tu cowok ga nerima aku untuk jadi tunangan dia, buktinya dia ga datang malam ini". Aku semakin bingung mendengar kata-kata tia,,,dan aku terdiam sejenak di sana walaupun romi terus melangkah ke arah mobilnya.
Karena sudah tak tahan lagi, aku lalu memberanikan diri berteriak "memang siapa cowok itu!!!". mendengar kata-kataku para tamu yang hadir pun ikut berteriak memaksa "Ya...Siapa!!!"...
Tia lalu terdiam sejenak dan perlahan berkata "dia itu sahabatku...romi....". Mendengar perkataan tia aku langsung berlari ke arah tia berdiri dan menghampirinya, kemudian aku berkata "romi datang kok,,,dari tadi dia pengen...". Belum selesai aku bicara, tia langsung memotong kata-kataku , "mana romi?...kamu siapa?!!!...jangan bohong ah!!!", kata tia dengan wajah yang penasaran. "Kamu ga perlu tahu aku siapa, yuk ke tempat romi...".
Aku lalu menarik tangan tia ke tempat mobil romi diparkirkan, ketika aku dan tia sampai disana, kami tidak melihat romi, hanya sebuah kado yang terletak disana. Tia lalu mengambil kado itu dan membaca kata-kata yang ditulis romi,,,
Tia selamat ulang tahun ya...semoga kamu panjang umur dan selalu bahagia, o ya hari ini aku sangat senang bisa melihat kamu, walaupun aku ga bisa mengungkapkan apa yang aku rasakan,,,tapi aku bahagia kok, karena kamu sudah memiliki seorang pilihan dan akan tunangan...
Membaca tulisan itu, air mata tia seakan berjatuhan tanpa henti...ia kemudian memeluk kado itu dengan segenap hatinya. Lalu ia berjalan sambil menangis ke dalam rumahnya, para tamu sangat bingung melihat tia, papa tia langsung memeluk tia yang sedang menangis itu. Terlihat suasana sangat mengarukan...
Tapi ketika kesunyian sedang menyelimuti saat itu, terdengar suara nyanyian seorang laki-laki dengan petikan gitar yang memecah kesepian. Seakan aku mengenal suara itu, semua orang disana menatap arah suara yang merdu itu, lantunan nada-nada indah terdengar ketika itu. Setelah ia selesai bernyanyi, ia berkata "lagu ini untuk orang yang sangat aku cintai...dia itu sahabatku...".
Wah ternyata itu romi, teriakku dalam hati. Tia langsung berlari ke arah romi dan langsung memeluknya. "Maafin aku romi...", kata tia kepada romi. "Kamu ga salah kok, aku aja yang ga pernah berani untuk mengakui kalau selama ini cewek yang aku cari itu adalah kamu...", jawab romi. Tia lalu tersenyum menatap wajah romi. Semua terdiam, tak ada sedikitpun suara yang terdengar...
Hingga ketika romi berkata "Aku cinta kamu tia", kata romi yang kemudian mengecup kening tia dengan indahnya. Aku pun seakan tak bisa berkata, tak ada sebuah kata yang mampu kuucapkan. "Aku juga cinta kamu romi...", jawab tia dengan perlahan yang kemudian memeluk tubuh romi.
Terdengar riuh tepuk tangan para tamu yang hadir, aku melihat ke arah papa tia, ia meneteskan air mata dari matanya yang sangat memerah.
Mungkin inilah takdir yang sudah dituliskan oleh yang maha kuasa, di mana cinta tak akan pernah hilang bila manusia tersebut benar-benar menginginkannya...
Aku lalu mendekati lelaki itu dengan penuh rasa ingin tahu. Aku bertanya padanya kenapa ia mengangis dan berjalan dengan lamun pikirannya. Tapi ia tak menjawab, aku lalu bertanya lagi dengan nada yang sedikit memaksa.
Ia hanya diam menatap ku, mungkin ia terkejut melihat seorang yang tak ia kenal bertanya kepadanya. Tapi aku tak peduli karena aku seakan mengerti apa yang dirasakannya. Perlahan ia bangkit dari diamnya dan berkata "aku...aku kini mengerti...".
Aku semakin bingung apa maksudnya, aku kemudian melihat dirinya yang seakan ingin berlari ke tengah jalan yang sedang ramai. Tanpa pikir panjang aku mengejarnya dan meraih tangannya, kutarik tangan itu dengan segenap kekuatan yang kumiliki.
Tapi ia kemudian marah dan kesal dengan apa yang telah kulakukan, seakan ia tak ingin aku menyelamatkan dirinya dari maut yang sudah mengincarnya. "Apa kamu sudah gila!!!", kataku padanya sambil berteriak. Ia lalu terduduk, diam dan diam...
Matanya menatap ke arah langit yang sedang meredup, perlahan ia lalu bercerita dan berkata kepada diriku. "Aku dulu adalah seorang yang bahagia", katanya. Kemudian ia melanjutkan ceritanya kepadaku.
Aku sangat bahagia dengan apa yang kumiliki, tak ada seorangpun yang bisa merebut senyum yang selalu terpancar di wajahku. Walaupun aku tak memiliki seorang pacar tapi aku tetap merasa senang karena aku merasa memiliki seorang teman yang selalu menemani hari-hariku. Temanku itu sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri.
Hari itu kami jalan ke sebuah mal di kota tempat kami tinggal, aku melihat seorang cewek yang menarik bagiku. Temanku lalu menyuruh aku untuk berkenalan dengan dia. Awalnya aku malu, tapi setelah sahabatku memaksa dan terus memaksa, akhirnya aku memberanikan diri untuk berkenalan.
Tapi cewek itu seakan tak menganggap diriku, ia hanya cuek dan terus berjalan tak menanggapiku. Aku pun kembali ke tempat temanku sambil sedikit tersenyum dan berkata "udah biasa sob, mana ada cewek yang amu ama gua, hahaaha...". Temanku lalu tersenyum kepadaku, o ya nama teman ku itu adalah tia. Ya sahabatku itu adalah seoarang wanita, yang selalu setia mendengar keluh kesah yang kurasakan.
Beberapa hari dari kejadian itu, seakan tia selalu ingin mencarikan seorang pacar untuk aku, tapi tetap saja semua cewek yang ia kenalkan kepada ku selalu menolak saat akan berkenalan dengan aku. Mungkin karena wajahku yang jelek dan pas-pasan.
Namun aku tetap merasa senang karena aku masih memiliki seorang sahabat seperti tia, seorang sahabat yang cantik, baik, dan perhatian. Tapi walaupun demikian tak pernah terlintas di otakku ingin memiliki dia sebagai pacar. Dan aku tahu aku tak pantas untuk menjadi cowoknya karena aku tak layak untuk dirinya.
Semakin lama aku menemani dia, semakin besar rasa yang kurasakan, entah apa itu. Aku merasa bila dia tak ada disampingku, aku merasa sepi dan gundah, apa aku jatuh cinta kepadanya?. Tapi ia seakan tak menyadari apa yang kurasakan dan terus menjodohkan aku dengan teman-teman ceweknya, aku hanya tersenyum ketika melihatnya menatap mataku.
Hari itu aku sedang memetik gitar dengan alunan nada yang indah, tiba-tiba handphone ku berdering dengan kerasnya, ketika kujawab ternyata dari sahabatku tia. Aku sangat senang menerima telephone darinya. Tapi ketika kujawab, kudengar suaranya serak seakan sedang menangis. Aku lalu bertanya kepadanya, dia hanya menjawab dengan sebuah kalimat "aku akan pergi...".
Aku bingung, aku lalu mengambil kunci mobilku dan bergegas menuju rumahnya, Ketika aku tiba di rumahnya, aku tak melihat mobilnya disana. Aku lalu mengetuk pintu rumahnya, dan hanya seorang penjaga rumah yang menyambut kedatanganku. Ia lalu mengatakan padaku bahwa tia dan papanya barusan berangkat ke bandara karena akan pindah ke luar negeri.
Tanpa pikir lagi, aku menuju ke bandara walaupun aku tak tahu ia akan kemana dan naik pesawat apa. Setiba disana aku kemudian berlari menuju pintu keberangkatan, dari kejauhan mataku menatap sosok tia yang sedang berdiri diam dan menunggu di depan pintu keberangkatan.
Kulangkahkan kakiku, kuberlari dan kuberteriak memanggil namanya. Tia!!!...aku yakin dia mendengar suaraku, ketika aku sampai di depan pintu keberangkatan, aku tak melihat sahabatku itu. Aku terus mencari dengan air mata yang berlinang di mataku, tapi tetap tak kutemui. Aku terus berteriak dan berteriak, Tia!!!...Tia!!!...
Tak ada yang menjawab, hanya orang-orang yang menatap diriku dan berpikir bahwa aku sudah gila!. Aku terduduk di lantai yang dingin itu, tak kusadari air mata mengalir dari pipiku jatuh ke bumi seakan terbang bersayap.
Tapi dalam tangisku itu aku terus memanggil nama tia dan perlahan berkata "aku cinta kamu tia, aku cinta kamu...". Baru kusadari bahwa cinta yang telah lama kucari selama ini ternyata selalu ada di dekatku, tapi aku tak pernah menyadarinya hingga ia pergi meninggalkanku.
Sampai saat ini aku ga pernah lagi ketemu dengan sahabatku itu, itulah yang membuat aku merasa sedih seperti sekarang ini. Walaupun waktu sudah berjalan hampir satu tahun semenjak dia pergi dari hari-hariku tapi aku ga pernah melupakan dia. Senyumnya, tawanya dan candanya selalu terbayang di ingatanku.
Mendengar cerita dari laki-laki ini, aku terdiam dan kemudian bertanya padanya "memang kamu ga pernah dihubungi oleh tia itu?". Ia lalu menjawab, "dia pernah sekali mengirimkan sms ke hp ku, katanya sekarang dia lagi di bandung".
"Loh bagus donk, kan kamu bisa ketemu dengan dia", kataku kepada lelaki itu. "Ya memang aku bisa bertemu dengan dia sekarang, tapi untuk apa aku bertemu dengan dia kalau cuma akan menyakiti", jawabnya.
Ia lalu memperlihatkan isi sms yang dikirimkan oleh tia kepada laki-laki itu...isinya seperti ini.
Hallo romi, gimana kabarnya?...aku lagi ada dibandung nih, o ya datang ya ke pesta ulang tahun aku ntar malam, o ya nanti malam sekalian aku kenalin kamu ke pacar aku hehehe...gimana kamu udah dapat cewek blum?, jangan jomblo mulu donk, malu ama umur huhuuhuh...
Ternyata nama laki-laki itu adalah romi, aku kemudian berkata padanya setelah membaca isi sms itu "aku tahu kamu cinta dia, dan aku tahu seperti apa sakit yang kamu rasakan, mungkin aku ga berhak memberikan pendapat karena kamu pasti mengira bahwa aku ga pernah mengerti sedih yang kamu rasakan saat ini, tapi percayalah...jalan satu-satunya dan yang terbaik adalah kamu datang ke pesta ulang tahunnya dan katakan bahwa kamu cinta dia, apapun keputusannya kamu harus menerimanya...aku bakal nemenin kamu ntar malam kalau kamu mau...".
Romi awalnya diam dan kemudian perlahan menjawab "mungkin kamu benar,,,ok ntar malam kamu temenin aku ya...", jawabnya sambil tersenyum.
Ketika malam datang, romi telah menungguku di tempat kami bertemu tadi, dengan dandanan yang rapi dan gagah dia mendatangiku dan langsung mengajakku untuk naik ke mobilnya, tanpa menunggu lagi kami langsung berangkat menuju ke rumah tia.
Terlihat suasana yang sangat ramai dan meriah di sana. Romi terlihat ragu ketika akan melangkah ke dalam rumah itu, tapi aku terus memberikan semangat kepadanya. Kemudian ia memberanikan dirinya untuk masuk, ia lalu menunjukkan kepadaku tia seorang sahabat dan seorang gadis yang sangat dicintainya.
Aku melihat sosok tia itu sangat cantik dan menarik, senyumnya seakan membiusku. Aku lalu membisikkan kepada romi untuk memberikan kado yang sudah dipersiapkannya kepada tia, dan jangan lupa untuk mengatakan bahwa kamu cinta dia.
Namun ketika romi akan melangkah ke arah tia, tiba-tiba terdengar suara pembawa acara, kita sambut tia yang akan menyanyikan sebuah lagu. Mendengar suara tersebut, romi berhenti melangkah dan terdiam. Tia lalu bernyanyi dengan suara yang indah dan membuat seluruh tamu terpana, di akhir lagunya ketika tia selesai melantunkan sebuah lagu, ia lalu berkata, lagu ini untuk seorang yang sangat aku sayangi.
Para tamu yang hadir kemudian berteriak "Huuuu...siapa tu!!!"...Tia melihat seorang lelaki yang wajahnya terlihat bukan dari negara kita, mungkin ia adalah cowok yang dikenal tia di luar negeri sana.
Setelah tia bernyanyi, papa tia pun berjalan ke arahnya dan menyampaikan beberapa kata, aku terkejut ketika mendengar kata-kata papanya, "hari ini tia akan memperkenalkan seoarang cowok yang sangat dicintainya, dan hari ini juga saya akan meresmikan hubungan mereka dengan pertunangan.
Aku menatap ke arah romi, terlihat tatapan kosong di matanya...aku tahu apa yang ia rasakan. Tia lalu berkata melalui sebuah mikropon yang digenggamnya, "hari ini saya akan memperkenalkan seorang cowok yang sangat saya cintai, berhubung papa saya memaksa saya untuk langsung saja tunangan dengan cowok itu hehehe...tapi kan ga bisa maksa juga, kali aja tu cowok ga suka dengan aku...", kata tia sambil tertawa.
Ketika tia sedang berbicara, seoarang cowok bule tadi berjalan ke arah tia, "apakah cowok itu yang tia maksud?", tanyaku dalam hati. Melihat hal ini, romi datang ke arahku dan berkata padaku, "ayo kita pulang, ga ada gunanya kita disini...".
Tapi tiba-tiba ketika kami akan berjalan keluar rumah itu, aku mendengar tia berkata "benerkan ga bisa maksa untuk tunangan hari ini, kali aja tu cowok ga nerima aku untuk jadi tunangan dia, buktinya dia ga datang malam ini". Aku semakin bingung mendengar kata-kata tia,,,dan aku terdiam sejenak di sana walaupun romi terus melangkah ke arah mobilnya.
Karena sudah tak tahan lagi, aku lalu memberanikan diri berteriak "memang siapa cowok itu!!!". mendengar kata-kataku para tamu yang hadir pun ikut berteriak memaksa "Ya...Siapa!!!"...
Tia lalu terdiam sejenak dan perlahan berkata "dia itu sahabatku...romi....". Mendengar perkataan tia aku langsung berlari ke arah tia berdiri dan menghampirinya, kemudian aku berkata "romi datang kok,,,dari tadi dia pengen...". Belum selesai aku bicara, tia langsung memotong kata-kataku , "mana romi?...kamu siapa?!!!...jangan bohong ah!!!", kata tia dengan wajah yang penasaran. "Kamu ga perlu tahu aku siapa, yuk ke tempat romi...".
Aku lalu menarik tangan tia ke tempat mobil romi diparkirkan, ketika aku dan tia sampai disana, kami tidak melihat romi, hanya sebuah kado yang terletak disana. Tia lalu mengambil kado itu dan membaca kata-kata yang ditulis romi,,,
Tia selamat ulang tahun ya...semoga kamu panjang umur dan selalu bahagia, o ya hari ini aku sangat senang bisa melihat kamu, walaupun aku ga bisa mengungkapkan apa yang aku rasakan,,,tapi aku bahagia kok, karena kamu sudah memiliki seorang pilihan dan akan tunangan...
Membaca tulisan itu, air mata tia seakan berjatuhan tanpa henti...ia kemudian memeluk kado itu dengan segenap hatinya. Lalu ia berjalan sambil menangis ke dalam rumahnya, para tamu sangat bingung melihat tia, papa tia langsung memeluk tia yang sedang menangis itu. Terlihat suasana sangat mengarukan...
Tapi ketika kesunyian sedang menyelimuti saat itu, terdengar suara nyanyian seorang laki-laki dengan petikan gitar yang memecah kesepian. Seakan aku mengenal suara itu, semua orang disana menatap arah suara yang merdu itu, lantunan nada-nada indah terdengar ketika itu. Setelah ia selesai bernyanyi, ia berkata "lagu ini untuk orang yang sangat aku cintai...dia itu sahabatku...".
Wah ternyata itu romi, teriakku dalam hati. Tia langsung berlari ke arah romi dan langsung memeluknya. "Maafin aku romi...", kata tia kepada romi. "Kamu ga salah kok, aku aja yang ga pernah berani untuk mengakui kalau selama ini cewek yang aku cari itu adalah kamu...", jawab romi. Tia lalu tersenyum menatap wajah romi. Semua terdiam, tak ada sedikitpun suara yang terdengar...
Hingga ketika romi berkata "Aku cinta kamu tia", kata romi yang kemudian mengecup kening tia dengan indahnya. Aku pun seakan tak bisa berkata, tak ada sebuah kata yang mampu kuucapkan. "Aku juga cinta kamu romi...", jawab tia dengan perlahan yang kemudian memeluk tubuh romi.
Terdengar riuh tepuk tangan para tamu yang hadir, aku melihat ke arah papa tia, ia meneteskan air mata dari matanya yang sangat memerah.
Mungkin inilah takdir yang sudah dituliskan oleh yang maha kuasa, di mana cinta tak akan pernah hilang bila manusia tersebut benar-benar menginginkannya...
Bukan Salahmu Bila Tak Cinta
Tawa riangmu hari itu masih bisa ku ingat dengan jelas, lambaian indah tanganmu pun masih bisa aku rasa. Hari itu kau begitu bahagia, seakan semua indah hadir dalam dirimu, menutup semua duka yang pernah hinggap dalam hatimu selama ini. Jauh suaramu sudah terdengar riang memecah keheningan yang sedang menggantung dalam hatiku. Tapi ternyata itu adalah tanda akan datangnya duka yang mendalam yang tidak sanggup aku lupa sampai saat ini.
“Pagi Gilang. Tambah ganteng aja, nih! Anak siapa sih? Anak Pak Amat tentunya.” Candamu pagi itu saat memasuki ruang kelas.
“Ah, Lintang. Kamu kalau muji paling bisa. Padahal kamu tau aku enggak kayak gitu kan?”
“Eh..ini bukan pujian, tapi kenyataan lho! Sumpah deh samber gelegek.”
“Kalau benar gitu, kenapa Lintang enggak mau jadi pacar saya. Ayo jawab dengan jujur ya!”
“Bukan enggak mau, hanya kurang ‘pd’ harus jalan bareng Mas Gilang yang guan..teng. Soalnya Lintang kan enggak cantik.”
“Emang kalau orang ganteng harus jalan ama yang cantik juga?”
“Iya dong! Biar seimbang!”
“Udah,jangan diteruskan! Nanti jadi ngawur.”
“Iya deh!”
Canda ringan seperti ini selalu menemaniku sejak aku pertama kali masuk di SMA Nusa Permai ini setelah kepindahanku. Lintang adalah teman pertama yang aku punya karena kebetulan kami tinggal diperkampungan yang sama. Lintang adalah gadis simpel dan mudah bergaul dengan siapa aja. Ia cepat bisa menyesuaikan dirinya dengan siapa aja. Ya seperti ungkapan ‘the right woman on the right place’ lah. Mungkin karena ini pula banyak yang suka dengannya, terutama cowok-cowok di sekolahku. Aku juga diam-diam sudah menyukainya sejak lama. Suatu hari aku pernah meminta ia untuk menjadi pacarku.
“Lintang boleh tanyak enggak?”
“Boleh dong. Tanyak apa?”
“Kalau Gilang bilang Gilang sayang Lintang dan mau Lintang jadi pacar Gilang, Lintang mau terima enggak?”
“Akh, Gilang yang tidak-tidak aja! Masak teman mau dijadiin pacar. Enggak lucu atuh!”
“Ini serius. Mau enggak?”
“Enggak akh! Entar Lintang enggak punya teman baik yang bisa buat curhat. Enggak mau!”
“Ya,sudah kalau enggak mau.” Jawabku dengan rasa kecewa.
Selama ini aku memang telah menjadi tempat curhat Lintang yang setiap saat selalu punya waktu untuk mendengar keluh-kesah, suka-duka, bahkan sampai urusan cintanya. Diam-diam, Lintang ternyata jatuh hati pada seorang temanku, Pandu. Ia lain kelas denganku dan Lintang, dan aku juga yang telah mengenalkan Lintang ke Pandu. Tanpa aku duga,ternyata Lintang menaruh hati ke Pandu dan sering kirim salam untuknya melalui aku. Pandu yang beruntung, pikirku. Karena dari sekian banyak yang menaruh hati padanya, bahkan aku sendiri,Pandulah yang mendapat perhatian dari Lintang.
“Gilang liat Pandu enggak hari ini? Lintang ada perlu ama dia lho.”
“Enggak. Mungkin dia ada dikelasnya. Cari aja kesana.”
“Temani dong. Malu kalau kesana sendiri.”
“Males ah!”
“Pliz……”
“Iya deh! Ayo cepetan!”
Bertemu Pandu, Lintang seperti lupa akan kehadiranku. Ia terlalu asik bercerita sehingga tidak menyadari kepergianku. Kusimpan semua rasa kecewa yang mendalam ini jauh-jauh karena bagaimanapun juga Lintang adalah sahabatku. Lagipula rasa cinta yang aku punya untuknya adalah rasa cinta yang tulus, sehingga rela merasakan sakit asal Lintang dapat bahagia. Selama aku masih bisa menjadi temannya, aku akan sangat bahagia.
Pagi itu lain dari biasanya Lintang menyapaku dengan sejuta resah dan gelisah menggelantung dipelupuk matanya. Aku dapat merasakan itu melalui sikapnya Lintang pagi itu sungguh berbeda. Tiada canda riang yang selalu menemaniku seperti biasanya.
“Aduh Li, kok murung? Entar cepat tua lho.”
“Enggak ada, cuma lagi males ngomong aja.”
“Marah ya ama aku? Atau aku uda buat kamu kesal?”
“Enggak kok. Enggak ada apa-apa.”
“Ngomong dong Li. Enggak biasanya kamu seperti ini.”
“Entar deh kalau hatiku udah enakan. Maaf ya Gi! Aku belum bisa bilang sekarang.”
Lintang pun berlalu meninggalkan aku yang masih terdiam tak percaya dengan perubahan sikapnya. Itu bukan Lintang yang biasa aku kenal. Masalah besar apa yang sudah membuat ia menjadi seperti itu. Aku harus menolongnya!
“Lintang tunggu! Lintang berhenti dulu, aku mau ngomong nih!”
“Sudah lah Gi, entar aja kalau aku uda siap betul ngomong masalah ini ke kamu.”
“Tapi dengan bersikap begini, kau malah membuat aku penasaran. Apa ini ada hubungannya dengan Pandu?” Lintang terdiam tak menjawab pertanyaanku.
“Jawab Li. Semua ini karena Pandu kan? Apa yang sudah ia buat ke kamu?”
“Tidak ada. Bukan karena Pandu dan juga bukan karena kamu. Aku hanya lagi ingin sendiri. Mengertilah Gi? Sekali ini saja, izinkan aku sendiri.”
Kata terakhir Lintang menyadarkan aku bahwa ia memang sedang dalam masalah besar sampai ia menyembunyikan semuanya dariku. Aku harus menemui Pandu karena ini pasti ada hubungannya dengan Pandu. Aku harus menyelesaikan semua ini dengan segera. Aku tidak mau melihat Lintang menderita terlalu lama. Aku enggak rela, pokoknya enggak rela! Bergegas aku melangkahkan kakiku menuju kelas Pandu.
Pandu sedang duduk membaca buku didalam kelasnya saat aku memanggilnya dengan suara sedikit marah.
“Pandu! Bisa bicara sebentar? Ada hal penting yang harus kubicarakan denganmu?”
“Tentu, Gi. Ada apa sih? Kelihatannya penting banget sampai harus bentak-bentak segala.”
“Semua urusan buatku akan menjadi sangat penting kalau urusan itu menyangkut sahabatku Lintang.”
“Emangnya Lintang kenapa Gi?” Pandu kelihatan khawatir, tapi dalam hatiku mengganggap itu pura-pura.
“Jangan pura-pura bodoh! Kamu apakan Lintang ah! Dia belum pernah seperti ini sebelumnya.”
“Aku? Enggak ada! Aku dengan Lintang baik-baik saja, kemarin malam aku baru dari rumahnya dan enggak ada masalah apa-apa. Sungguh Gi! Aku enggak bohong!”
“Alah, jangan pura-pura! Didepanku kau bisa ngomong gitu, tapi kenyataannya Lintang pagi ini datang dengan wajah murung, dan yang paling parah lagi, dia malah enggak mau ngomong ke aku, sahabatnya sendiri.”
“Kalau memang enggak ada apa-apa, lalu aku harus ngomong apa?”
“Jadi benar enggak ada masalah apa-apa, Pan?”
“Benar! Aku berani sumpah deh!”
“Kalau gitu ada masalah apa ya sebenarnya?”
“Biar deh aku tanya ke Lintang.”
“Jangan sekarang. Dia lagi pingin sendiri. Itu pesannya buatku.”
Aku kembali kekelas karena bel masuk sudah berbunyi. Aneh, Lintang enggak ada dikelas padahal pagi tadi dia datang. Kemana Lintang? Aku enggak konsen selama di dalam kelas. Pikiranku tertuju ke Lintang. Apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia samapi enggak masuk kelas? Sekarang ia ada dimana dan lagi apa? Berjuta pertanyaan meghampiri pikiranku. Aku ingin bel istirahat segera berbunyi dan aku bisa mencari Lintang. Waktu yang hanya 2 jam setengah terasa seperti 2 abad aja. Akhirnya bel pun berbunyi! Tanpa menunggu Pak Sanusi keluar dari kelas, aku langsung beranjak pergi.
Setiap sudut sekolah rasanya sudah aku telusuri tapi aku masih belum bisa menemukan Lintang. Kecemasan semakin memuncak dikepalaku, rasa takut semakin dekat menghampiriku. Takut kalau sampai Lintang melakukan hal yang tidak-tidak. Oh Tuhan, bantu aku menemukan Lintang! Jangan sampai ia berbuat nekad. Tolanglah Tuhan! Bantu aku sekali ini! Namun, sampai jam pelajaran berakhir, aku masih belum bisa menemukan Lintang. Dengan putus asa, aku menelpon ke rumah Lintang sambil berharap ia ada dirumah. Ibu Lintang yang menjawab telponku.
“Siang Tante. Ini Gilang. Lintang ada?”
“Enggak ada. Belum pulang dari sekolah. Emangnya Gilang enggak ketemu disekolah?”
“Enggak Tante. Kebetulan hari ini Gilang enggak ke sekolah.” Aku terpaksa berbohong untuk tidak membuat Tante Irma khawatir.
“Oh. Gitu. Nanti kalau Lintang pulang, Tante kasi tau Lintang deh kalau Gilang nelpon.”
“Makasih Tante.”
Kecemasan ku semakin parah. Aku sudah tidak tau lagi harus cari kemana lagi. Semua tempat yang sering kami datangi sudah berulangkali aku periksa, tapi tetap tidak ada Lintang. Aku putus asa! Dalam hati hanya bisa berdoa tidak terjadi apa-apa dengan Lintang. Mungkin saat ini ia memang benar-benar ingin menyendiri dan tidak ingin diganggu, meskipun itu aku. Aku hanya berharap Lintang akan menelpon ku kalau ia benar-benar sudah siap, seperti janjinya padaku. Dengan pasrah aku duduk dihalte depan sekolah untuk menunggu bis yang selalu setia mengantarku pulang. Tiba-tiba…
“Gilang…..Gilang…..Gilang…..!”
Aku seperti terbangun dari mimpi saat mendengar suara Lintang memanggil namaku. Lintang sedang berdiri diseberang jalan, berteriak-teriak memanggil namaku.
“Hey, Lintang. Darimana aja? Aku uda capek nyarik kamu dari tadi!”
“Aku pergi ke mall. Jalan-jalan ilangin suntuk.” Jawab Lintang masih dari seberang jalan.
“Kemari deh, kita pulang baren.”
“Oke!”
Hatiku belum penah sebahagia ini. Lintang baik-baik saja. Terima kasih Tuhan, Kau telah mengabulkan doaku. Aku mungkin terlalu khawatir.
Hari itu jalanan terlalu ramai, Lintang pun sulit untuk menyebrang jalan karena dia kelihatan sangsi untuk melangkahkan kakinya. Dari seberang jalan, aku memperhatikan Lintang dengan sedikit cemas. Hingga akhirnya, kulihat Lintang melangkahkan kaki untuk menyebrang, namun tiba-tiba dari arah berlawanan sebuah mobil pengangkut sayuran menyambut langkah ringan Lintang, dan suara nyaring rem mobil memecah suasana keramaian hari itu.
Aku berteriak sekuat tenaga memanggil nama Lintang saat melihat kejadian tragis itu didepan mataku. Sekerumunan orang kemudian berkumpul menutupi tubuh Lintang. Aku terpaku untuk beberapa saat sebelum tersadar dan berlari keseberang jalan. Aku tarik tubuh orang-orang yang sedang berkerumun itu satu per satu sambil terus berteriak.
“Awas! Geser sedikit! Dia teman ku! Awas! Biarkan aku lewat!”
“Sabar ya dek.” Kata salah satu orang diantara mereka.
“Tapi geser dulu, dan tolong telpon ambulan sekarang juga! Tolong!!!!”
Kekuatanku seakan hilang entah kemana. Tiada tersisa daya untuk menyibak satu per satu tumpukan sayur yang menutupi wajah Lintang diantara butir-butir darah merah yang dengan santainya mengalir dari kepala Lintang. Itu bukan Lintang sahabatku! Teriak ku dalam hati! Perlahan aku kumpulkan kekuatan ku untuk menyibak tirai yang menutupi wajah manisnya. Seperti nyawa terlepas dari badanku, ku lihat wajah Lintang tertutup ‘bercak’ darah merah sehingga aku tidak bisa melihat lagi wajah manis yang selama ini selalu hadir mengisi hari-hari ceriaku. Tersadar dari mimpi, kurengkuh tubuh Lintang yang tak lagi bergerak. Kubiarkan darah merah itu menyatu dengan tubuhku seakan aku ingin membagi semua derita yang ia rasa saat ini. Tangis ku akhirnya tak tertahan lagi, mengalir diiringi teriakan tak percayaku menerima kenyataan ini.
Tubuh Lintang masih kurengkuh dengan erat tanpa mau kulepaskan. Rasa tak percaya kalau ini harus terjadi kepada Lintang masih terus menyergap tak ingin pergi. Harapan besar masih kuselipkan dihati bahwa Lintang akan baik-baik saja. Tak lama kemudian, ambulan pun datang dan membawa Lintang pergi. Aku turut ikut menemaninya dengan mulutku yang tak berhenti berdoa untuknya.
Setiba di rumah sakit, tubuh Lintang yang berlumuran darah itu dibawa masuk ke ruang UGD (Unit Gawat Darurat). Aku diminta untuk menunggu diluar. Sambil menunggu, aku menelpon Tante Irma, mengabarkan berita ini. Tentu saja Tante Irma shok dan mengatakan akan langsung ke rumah sakit.
Sekitar dua jam Lintang berada didalam ruang UGD. Seorang perawat keluar dan bertanya padaku dengan suara yang sedikit tertahan, dan semakin membuatku panik
“Kamu yang bernama Gilang?”
“Iya, benar. Ada apa sus?”
“Mari ikut saya. Pasien memanggil nama kamu terus.”
“Baik sus.”
Ku ikuti langkah kaki suster menuju ruang UGD. Didalam ruangan itu, kulihat tubuh Lintang sudah dibersihkan dan lukanya juga sudah dibalut. Wajah manisnya sudah bisa kulihat lagi. Aku bersyukur dalam hati. Tapi saat melihat begitu banyak alat kedokteran yang menemani Lintang, jantungku kembali berdegup kencang. Aku bertanya kepada dokter yang menangi Lintang.
“Teman saya kenapa Dok?”
“Teman kamu mengalami pendarahan otak yang sangat parah, dan harus kami operasi sekarang juga. Sekarang ia sedang dalam keadaan krisis”
“Lalu?”
“Kemungkinannya sangat kecil. Saat sadar tadi ia mengatakan ingin bicara dengan Gilang. Itu kamu kan?”
“Iya.”
“Nah, sekarang bicaralah dengannya. Jangan lama-lama ya. Kami harus membawanya ke ruamg operasi.”
“Baik Dok!”
Kulangkahkan kaki mendekati Lintang. Ia tidak berkata apa-apa, hanya menyerahkan sepucuk surat kepadaku. Setelah itu matanya kembali terpejam. Kulihat tubuh Lintang berlalu menuju ruang operasi. Doa tulusku untuk keselamatannya menyertai kepergiannya menuju ruang operasi.
Hari itu adalah hari terakhir aku melihat wajah manis Lintang. Operasi yang direncanakan belum sempat dilakukan, Lintang sudah tidak sabar untuk pergi bertemu yang Illahi. Kesedihan menyelimuti orang-orang terdekatnya, terutama aku. Hampir saja aku melupakan surat yang diberikan Lintang saat itu karena kesedihan ini. Setelah satu minggu kepergian Lintang, aku baru membaca suratnya.
Tulisan tangan Lintang kubaca perlahan. Didalamnya, ia mencurahkan segala isi hatinya yang ingin ia utarakan padaku. Kata maaf mengawali isi surat itu.
“Maaf, karena aku bukanlah sahabat yang baik buatmu. Maaf karena aku tidak cukup peka untuk mengetahui perasaan yang terpendam dalam hatimu. Maaf karena aku tidak cepat menyadari itu. Maaf karena aku tidak bisa membalas perasaan itu, karena aku baru tahu setelah Pandu menceritakan hal ini padaku. Ternyata selama ini, Gilang benar-benar sayang ke Lintang, tapi Lintang dengan begitu egoisnya malah jatuh hati dengan teman Gilang yang ternyata menyukai Lintang karena dendamnya ke Gilang. Pandu mengaku jujur bahwa perasaan sayangnya ke Lintang karena ingin membalas sakit hatinya ke Gilang karena telah merebut kekasihnya, dan karena ia tahu Gilang sayang Lintang, ia menerima Lintang untuk membuat Gilang merasakan hal yang sama. Mengapa Lintang tidak menyadari ini lebih awal, sehingga tidak menyiksa Gilang terlalu lama? Maaf kalau Lintang sudah membuat Gilang kecewa. Melalui surat ini Lintang juga mau minta maaf karena tidak bisa membalas cinta Gilang. Gilang masih maukan menjadi sahabat Lintang?
Sahabatmu
Lintang.
Hari ini, aku sedang duduk disamping batu nisanmu. Mengenang memori indah kita dulu. Aku kembali teringat bait-bait surat yang membuat ku ingin berteriak marah. Karena aku tidak pernah tersiksa dan merasa tersiksa akan cintaku yang tak berbalas atau karena Pandulah yang dipilih Lintang. Tapi semua sudah terjadi. Untukmu sahabat terbaikku, aku sudah memaafkan mu jauh sebelum kau memintanya. Itulah gunanya sahabatkan? Satu yang pasti, semua ini bukan kesalahanmu. Bukan salahmu bila kau tak cinta Lintang, dan juga bukan salahmu bila cintaku tak berbalas. Kalimat ini selalu ingin kuucapkan buatmu, bahkan setelah 3 tahun kepergiaanmu. Kuharap kau dapat mendengarnya sobat, jauh dari alammu yang bahagia disana.
“Pagi Gilang. Tambah ganteng aja, nih! Anak siapa sih? Anak Pak Amat tentunya.” Candamu pagi itu saat memasuki ruang kelas.
“Ah, Lintang. Kamu kalau muji paling bisa. Padahal kamu tau aku enggak kayak gitu kan?”
“Eh..ini bukan pujian, tapi kenyataan lho! Sumpah deh samber gelegek.”
“Kalau benar gitu, kenapa Lintang enggak mau jadi pacar saya. Ayo jawab dengan jujur ya!”
“Bukan enggak mau, hanya kurang ‘pd’ harus jalan bareng Mas Gilang yang guan..teng. Soalnya Lintang kan enggak cantik.”
“Emang kalau orang ganteng harus jalan ama yang cantik juga?”
“Iya dong! Biar seimbang!”
“Udah,jangan diteruskan! Nanti jadi ngawur.”
“Iya deh!”
Canda ringan seperti ini selalu menemaniku sejak aku pertama kali masuk di SMA Nusa Permai ini setelah kepindahanku. Lintang adalah teman pertama yang aku punya karena kebetulan kami tinggal diperkampungan yang sama. Lintang adalah gadis simpel dan mudah bergaul dengan siapa aja. Ia cepat bisa menyesuaikan dirinya dengan siapa aja. Ya seperti ungkapan ‘the right woman on the right place’ lah. Mungkin karena ini pula banyak yang suka dengannya, terutama cowok-cowok di sekolahku. Aku juga diam-diam sudah menyukainya sejak lama. Suatu hari aku pernah meminta ia untuk menjadi pacarku.
“Lintang boleh tanyak enggak?”
“Boleh dong. Tanyak apa?”
“Kalau Gilang bilang Gilang sayang Lintang dan mau Lintang jadi pacar Gilang, Lintang mau terima enggak?”
“Akh, Gilang yang tidak-tidak aja! Masak teman mau dijadiin pacar. Enggak lucu atuh!”
“Ini serius. Mau enggak?”
“Enggak akh! Entar Lintang enggak punya teman baik yang bisa buat curhat. Enggak mau!”
“Ya,sudah kalau enggak mau.” Jawabku dengan rasa kecewa.
Selama ini aku memang telah menjadi tempat curhat Lintang yang setiap saat selalu punya waktu untuk mendengar keluh-kesah, suka-duka, bahkan sampai urusan cintanya. Diam-diam, Lintang ternyata jatuh hati pada seorang temanku, Pandu. Ia lain kelas denganku dan Lintang, dan aku juga yang telah mengenalkan Lintang ke Pandu. Tanpa aku duga,ternyata Lintang menaruh hati ke Pandu dan sering kirim salam untuknya melalui aku. Pandu yang beruntung, pikirku. Karena dari sekian banyak yang menaruh hati padanya, bahkan aku sendiri,Pandulah yang mendapat perhatian dari Lintang.
“Gilang liat Pandu enggak hari ini? Lintang ada perlu ama dia lho.”
“Enggak. Mungkin dia ada dikelasnya. Cari aja kesana.”
“Temani dong. Malu kalau kesana sendiri.”
“Males ah!”
“Pliz……”
“Iya deh! Ayo cepetan!”
Bertemu Pandu, Lintang seperti lupa akan kehadiranku. Ia terlalu asik bercerita sehingga tidak menyadari kepergianku. Kusimpan semua rasa kecewa yang mendalam ini jauh-jauh karena bagaimanapun juga Lintang adalah sahabatku. Lagipula rasa cinta yang aku punya untuknya adalah rasa cinta yang tulus, sehingga rela merasakan sakit asal Lintang dapat bahagia. Selama aku masih bisa menjadi temannya, aku akan sangat bahagia.
Pagi itu lain dari biasanya Lintang menyapaku dengan sejuta resah dan gelisah menggelantung dipelupuk matanya. Aku dapat merasakan itu melalui sikapnya Lintang pagi itu sungguh berbeda. Tiada canda riang yang selalu menemaniku seperti biasanya.
“Aduh Li, kok murung? Entar cepat tua lho.”
“Enggak ada, cuma lagi males ngomong aja.”
“Marah ya ama aku? Atau aku uda buat kamu kesal?”
“Enggak kok. Enggak ada apa-apa.”
“Ngomong dong Li. Enggak biasanya kamu seperti ini.”
“Entar deh kalau hatiku udah enakan. Maaf ya Gi! Aku belum bisa bilang sekarang.”
Lintang pun berlalu meninggalkan aku yang masih terdiam tak percaya dengan perubahan sikapnya. Itu bukan Lintang yang biasa aku kenal. Masalah besar apa yang sudah membuat ia menjadi seperti itu. Aku harus menolongnya!
“Lintang tunggu! Lintang berhenti dulu, aku mau ngomong nih!”
“Sudah lah Gi, entar aja kalau aku uda siap betul ngomong masalah ini ke kamu.”
“Tapi dengan bersikap begini, kau malah membuat aku penasaran. Apa ini ada hubungannya dengan Pandu?” Lintang terdiam tak menjawab pertanyaanku.
“Jawab Li. Semua ini karena Pandu kan? Apa yang sudah ia buat ke kamu?”
“Tidak ada. Bukan karena Pandu dan juga bukan karena kamu. Aku hanya lagi ingin sendiri. Mengertilah Gi? Sekali ini saja, izinkan aku sendiri.”
Kata terakhir Lintang menyadarkan aku bahwa ia memang sedang dalam masalah besar sampai ia menyembunyikan semuanya dariku. Aku harus menemui Pandu karena ini pasti ada hubungannya dengan Pandu. Aku harus menyelesaikan semua ini dengan segera. Aku tidak mau melihat Lintang menderita terlalu lama. Aku enggak rela, pokoknya enggak rela! Bergegas aku melangkahkan kakiku menuju kelas Pandu.
Pandu sedang duduk membaca buku didalam kelasnya saat aku memanggilnya dengan suara sedikit marah.
“Pandu! Bisa bicara sebentar? Ada hal penting yang harus kubicarakan denganmu?”
“Tentu, Gi. Ada apa sih? Kelihatannya penting banget sampai harus bentak-bentak segala.”
“Semua urusan buatku akan menjadi sangat penting kalau urusan itu menyangkut sahabatku Lintang.”
“Emangnya Lintang kenapa Gi?” Pandu kelihatan khawatir, tapi dalam hatiku mengganggap itu pura-pura.
“Jangan pura-pura bodoh! Kamu apakan Lintang ah! Dia belum pernah seperti ini sebelumnya.”
“Aku? Enggak ada! Aku dengan Lintang baik-baik saja, kemarin malam aku baru dari rumahnya dan enggak ada masalah apa-apa. Sungguh Gi! Aku enggak bohong!”
“Alah, jangan pura-pura! Didepanku kau bisa ngomong gitu, tapi kenyataannya Lintang pagi ini datang dengan wajah murung, dan yang paling parah lagi, dia malah enggak mau ngomong ke aku, sahabatnya sendiri.”
“Kalau memang enggak ada apa-apa, lalu aku harus ngomong apa?”
“Jadi benar enggak ada masalah apa-apa, Pan?”
“Benar! Aku berani sumpah deh!”
“Kalau gitu ada masalah apa ya sebenarnya?”
“Biar deh aku tanya ke Lintang.”
“Jangan sekarang. Dia lagi pingin sendiri. Itu pesannya buatku.”
Aku kembali kekelas karena bel masuk sudah berbunyi. Aneh, Lintang enggak ada dikelas padahal pagi tadi dia datang. Kemana Lintang? Aku enggak konsen selama di dalam kelas. Pikiranku tertuju ke Lintang. Apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia samapi enggak masuk kelas? Sekarang ia ada dimana dan lagi apa? Berjuta pertanyaan meghampiri pikiranku. Aku ingin bel istirahat segera berbunyi dan aku bisa mencari Lintang. Waktu yang hanya 2 jam setengah terasa seperti 2 abad aja. Akhirnya bel pun berbunyi! Tanpa menunggu Pak Sanusi keluar dari kelas, aku langsung beranjak pergi.
Setiap sudut sekolah rasanya sudah aku telusuri tapi aku masih belum bisa menemukan Lintang. Kecemasan semakin memuncak dikepalaku, rasa takut semakin dekat menghampiriku. Takut kalau sampai Lintang melakukan hal yang tidak-tidak. Oh Tuhan, bantu aku menemukan Lintang! Jangan sampai ia berbuat nekad. Tolanglah Tuhan! Bantu aku sekali ini! Namun, sampai jam pelajaran berakhir, aku masih belum bisa menemukan Lintang. Dengan putus asa, aku menelpon ke rumah Lintang sambil berharap ia ada dirumah. Ibu Lintang yang menjawab telponku.
“Siang Tante. Ini Gilang. Lintang ada?”
“Enggak ada. Belum pulang dari sekolah. Emangnya Gilang enggak ketemu disekolah?”
“Enggak Tante. Kebetulan hari ini Gilang enggak ke sekolah.” Aku terpaksa berbohong untuk tidak membuat Tante Irma khawatir.
“Oh. Gitu. Nanti kalau Lintang pulang, Tante kasi tau Lintang deh kalau Gilang nelpon.”
“Makasih Tante.”
Kecemasan ku semakin parah. Aku sudah tidak tau lagi harus cari kemana lagi. Semua tempat yang sering kami datangi sudah berulangkali aku periksa, tapi tetap tidak ada Lintang. Aku putus asa! Dalam hati hanya bisa berdoa tidak terjadi apa-apa dengan Lintang. Mungkin saat ini ia memang benar-benar ingin menyendiri dan tidak ingin diganggu, meskipun itu aku. Aku hanya berharap Lintang akan menelpon ku kalau ia benar-benar sudah siap, seperti janjinya padaku. Dengan pasrah aku duduk dihalte depan sekolah untuk menunggu bis yang selalu setia mengantarku pulang. Tiba-tiba…
“Gilang…..Gilang…..Gilang…..!”
Aku seperti terbangun dari mimpi saat mendengar suara Lintang memanggil namaku. Lintang sedang berdiri diseberang jalan, berteriak-teriak memanggil namaku.
“Hey, Lintang. Darimana aja? Aku uda capek nyarik kamu dari tadi!”
“Aku pergi ke mall. Jalan-jalan ilangin suntuk.” Jawab Lintang masih dari seberang jalan.
“Kemari deh, kita pulang baren.”
“Oke!”
Hatiku belum penah sebahagia ini. Lintang baik-baik saja. Terima kasih Tuhan, Kau telah mengabulkan doaku. Aku mungkin terlalu khawatir.
Hari itu jalanan terlalu ramai, Lintang pun sulit untuk menyebrang jalan karena dia kelihatan sangsi untuk melangkahkan kakinya. Dari seberang jalan, aku memperhatikan Lintang dengan sedikit cemas. Hingga akhirnya, kulihat Lintang melangkahkan kaki untuk menyebrang, namun tiba-tiba dari arah berlawanan sebuah mobil pengangkut sayuran menyambut langkah ringan Lintang, dan suara nyaring rem mobil memecah suasana keramaian hari itu.
Aku berteriak sekuat tenaga memanggil nama Lintang saat melihat kejadian tragis itu didepan mataku. Sekerumunan orang kemudian berkumpul menutupi tubuh Lintang. Aku terpaku untuk beberapa saat sebelum tersadar dan berlari keseberang jalan. Aku tarik tubuh orang-orang yang sedang berkerumun itu satu per satu sambil terus berteriak.
“Awas! Geser sedikit! Dia teman ku! Awas! Biarkan aku lewat!”
“Sabar ya dek.” Kata salah satu orang diantara mereka.
“Tapi geser dulu, dan tolong telpon ambulan sekarang juga! Tolong!!!!”
Kekuatanku seakan hilang entah kemana. Tiada tersisa daya untuk menyibak satu per satu tumpukan sayur yang menutupi wajah Lintang diantara butir-butir darah merah yang dengan santainya mengalir dari kepala Lintang. Itu bukan Lintang sahabatku! Teriak ku dalam hati! Perlahan aku kumpulkan kekuatan ku untuk menyibak tirai yang menutupi wajah manisnya. Seperti nyawa terlepas dari badanku, ku lihat wajah Lintang tertutup ‘bercak’ darah merah sehingga aku tidak bisa melihat lagi wajah manis yang selama ini selalu hadir mengisi hari-hari ceriaku. Tersadar dari mimpi, kurengkuh tubuh Lintang yang tak lagi bergerak. Kubiarkan darah merah itu menyatu dengan tubuhku seakan aku ingin membagi semua derita yang ia rasa saat ini. Tangis ku akhirnya tak tertahan lagi, mengalir diiringi teriakan tak percayaku menerima kenyataan ini.
Tubuh Lintang masih kurengkuh dengan erat tanpa mau kulepaskan. Rasa tak percaya kalau ini harus terjadi kepada Lintang masih terus menyergap tak ingin pergi. Harapan besar masih kuselipkan dihati bahwa Lintang akan baik-baik saja. Tak lama kemudian, ambulan pun datang dan membawa Lintang pergi. Aku turut ikut menemaninya dengan mulutku yang tak berhenti berdoa untuknya.
Setiba di rumah sakit, tubuh Lintang yang berlumuran darah itu dibawa masuk ke ruang UGD (Unit Gawat Darurat). Aku diminta untuk menunggu diluar. Sambil menunggu, aku menelpon Tante Irma, mengabarkan berita ini. Tentu saja Tante Irma shok dan mengatakan akan langsung ke rumah sakit.
Sekitar dua jam Lintang berada didalam ruang UGD. Seorang perawat keluar dan bertanya padaku dengan suara yang sedikit tertahan, dan semakin membuatku panik
“Kamu yang bernama Gilang?”
“Iya, benar. Ada apa sus?”
“Mari ikut saya. Pasien memanggil nama kamu terus.”
“Baik sus.”
Ku ikuti langkah kaki suster menuju ruang UGD. Didalam ruangan itu, kulihat tubuh Lintang sudah dibersihkan dan lukanya juga sudah dibalut. Wajah manisnya sudah bisa kulihat lagi. Aku bersyukur dalam hati. Tapi saat melihat begitu banyak alat kedokteran yang menemani Lintang, jantungku kembali berdegup kencang. Aku bertanya kepada dokter yang menangi Lintang.
“Teman saya kenapa Dok?”
“Teman kamu mengalami pendarahan otak yang sangat parah, dan harus kami operasi sekarang juga. Sekarang ia sedang dalam keadaan krisis”
“Lalu?”
“Kemungkinannya sangat kecil. Saat sadar tadi ia mengatakan ingin bicara dengan Gilang. Itu kamu kan?”
“Iya.”
“Nah, sekarang bicaralah dengannya. Jangan lama-lama ya. Kami harus membawanya ke ruamg operasi.”
“Baik Dok!”
Kulangkahkan kaki mendekati Lintang. Ia tidak berkata apa-apa, hanya menyerahkan sepucuk surat kepadaku. Setelah itu matanya kembali terpejam. Kulihat tubuh Lintang berlalu menuju ruang operasi. Doa tulusku untuk keselamatannya menyertai kepergiannya menuju ruang operasi.
Hari itu adalah hari terakhir aku melihat wajah manis Lintang. Operasi yang direncanakan belum sempat dilakukan, Lintang sudah tidak sabar untuk pergi bertemu yang Illahi. Kesedihan menyelimuti orang-orang terdekatnya, terutama aku. Hampir saja aku melupakan surat yang diberikan Lintang saat itu karena kesedihan ini. Setelah satu minggu kepergian Lintang, aku baru membaca suratnya.
Tulisan tangan Lintang kubaca perlahan. Didalamnya, ia mencurahkan segala isi hatinya yang ingin ia utarakan padaku. Kata maaf mengawali isi surat itu.
“Maaf, karena aku bukanlah sahabat yang baik buatmu. Maaf karena aku tidak cukup peka untuk mengetahui perasaan yang terpendam dalam hatimu. Maaf karena aku tidak cepat menyadari itu. Maaf karena aku tidak bisa membalas perasaan itu, karena aku baru tahu setelah Pandu menceritakan hal ini padaku. Ternyata selama ini, Gilang benar-benar sayang ke Lintang, tapi Lintang dengan begitu egoisnya malah jatuh hati dengan teman Gilang yang ternyata menyukai Lintang karena dendamnya ke Gilang. Pandu mengaku jujur bahwa perasaan sayangnya ke Lintang karena ingin membalas sakit hatinya ke Gilang karena telah merebut kekasihnya, dan karena ia tahu Gilang sayang Lintang, ia menerima Lintang untuk membuat Gilang merasakan hal yang sama. Mengapa Lintang tidak menyadari ini lebih awal, sehingga tidak menyiksa Gilang terlalu lama? Maaf kalau Lintang sudah membuat Gilang kecewa. Melalui surat ini Lintang juga mau minta maaf karena tidak bisa membalas cinta Gilang. Gilang masih maukan menjadi sahabat Lintang?
Sahabatmu
Lintang.
Hari ini, aku sedang duduk disamping batu nisanmu. Mengenang memori indah kita dulu. Aku kembali teringat bait-bait surat yang membuat ku ingin berteriak marah. Karena aku tidak pernah tersiksa dan merasa tersiksa akan cintaku yang tak berbalas atau karena Pandulah yang dipilih Lintang. Tapi semua sudah terjadi. Untukmu sahabat terbaikku, aku sudah memaafkan mu jauh sebelum kau memintanya. Itulah gunanya sahabatkan? Satu yang pasti, semua ini bukan kesalahanmu. Bukan salahmu bila kau tak cinta Lintang, dan juga bukan salahmu bila cintaku tak berbalas. Kalimat ini selalu ingin kuucapkan buatmu, bahkan setelah 3 tahun kepergiaanmu. Kuharap kau dapat mendengarnya sobat, jauh dari alammu yang bahagia disana.
Langganan:
Postingan (Atom)